Bikin Sedih, Penyesalan si Suami Setelah Istrinya Meninggal Dunia. Seperti Ini Ceritanya


ilustrasi-croot_20160904_192517

palingseru.com – Sebuah kisah nyata yang dapat membuat pasangan semakin menyayangi istrinya. Simak ceritanya di bawah ini, yang dihimpun dari TribunSumsel.com.

Suatu hari dua sejoli bernama Nina dan Herman menikah, setelah menjalin hubungan pacaran selama 10 tahun. Saat itu kehidupan rumah mereka selalu dipenuhi kebahagiaan. Apalagi saat keduanya dikaruniai seorang putra bernama Lilo.

Hingga akhirnya pernikahan mereka memasuki usia ke empat tahun. Di sini, hubungan antar keduanya sedikit merenggang. Nina sudah mulai sibuk dengan halnya sendiri. Ia hanya mementingkan karir dan anaknya.

Hal inilah yang membuat Herman untuk memiliki anak lagi. Sayangnya, permintaan ini ditolak oleh Nina, dengan alasan masih ingin mengecek ke dokter perihal kondisinya. Namun kondisi ini beberapa kali terjadi hingga setengah tahun lamanya. Dan hal ini membuat Herman sedikit berpaling dari Nina.

Terlebih, di kantornya bekerja ada seorang sekretaris baru bernama Jenny, yang berhasil membuat Herman nyaman di dekatnya. Sedikit demi sedikit, Jenny mulai menguasai pikiran dan hidup Herman. Membuatnya jarang pulang tepat waktu.

“Kok sering pulang telat, Mas?” tanya Nina.

“Lembur..” jawab Herman singkat sambil mengganti pakaiannya.

Hal ini sering terjadi dan semakin membuat Nina merasa curiga pada suaminya. Namun, Nina tak mau langsung menuduh yang tidak-tidak tanpa bukti yang jelas. Ia pun hanya membiarkannya.

Kehidupan pernikahan Nina dan Herman semakin merenggang. Nina menjadi lebih banyak diam setelah Lilo masuk sekolah. Tapi Herman pikir mungkin hal ini disebabkan oleh keperluan anak mereka yang makin banyak.

Padahal sebenarnya Nina menyimpan sebuah rahasia yang agak dalam. Ia sengaja tak menceritakannya karena tak ingin suaminya sampai bersedih. Ia benar-benar sangat menjaga perasaan suaminya.

Sesekali hubungan Nina dan Herman diwarnai oleh pertengkaran-pertengkaran kecil. Kebiasaan Herman yang selalu pulang malamlah yang memicu adanya pertengkaran.

“Aku kerja. Aku kan juga nggak pernah protes ketika kamu pulang malam, Nina,” kata Herman dengan nada tinggi.

“Kamu berubah, Mas. Kerja juga nggak mungkin pulang malam terus kan?” Nina membalas.

Herman mendengus sebal dan menyahut, “Kamu tanya saja sendiri pada dirimu, kenapa aku jadi nggak betah. Kamu terlalu sibuk dengan karirmu, aku juga bisa kalau begini caranya.”

Herman sebenarnya sakit mengucapkan hal tersebut pada Nina. Namun karena emosinya yang tak tertahan, keluarlah ucapan kasar itu dari mulutnya.

Jenny juga mulai berani mempengaruhi Herman untuk menceraikan istrinya. Awalnya Herman ragu, namun makin sering ia dan Nina bertengkar, ia pun mulai menyampaikan keinginannya untuk bercerai.

Tentu saja hal ini membuat Nina hancur setengah mati.

Nina pun langsung menolak permintaan suaminya karena ia tidak ingin Lilo merasakan keluarga yang retak dan tentu saja perceraian adalah hal yang sangat dibenci Allah SWT.

Namun hal itu tak diperdulikan Herman. Ia justru menyodorkan surat pengajuan cerai beberapa hari setelah ia menyampaikan keinginannya itu.

Tapi apalah daya Nina, yang hanya seorang istri yang harus mentaati suaminya. Ia hanya bisa bersabar dan memanjatkan doa pada Allah untuk meminta petunjuk atas masalah yang sedang dihadapinya.

Karena hanya pada-Nya lah manusia bisa mendapatkan petunjuk dari semua masalah, sebagaimana firman Allah:

”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS. Al-Qashash : 56)

Hingga akhirnya ia mendapat petunjuk terang dari Sang Maha Kuasa. Nina sepakat dengan keputusan suaminya, namun dengan satu syarat.

“Aku akan menandatanganinya setelah 30 hari. Dalam 30 hari itu, aku ingin Mas selalu menggendong aku dari ranjang ke meja makan untuk sarapan setiap pagi. Juga dari ruang keluarga ke kamar tidur setiap malam,” ujar Nina dengan suara setengah serak seperti orang yang semalaman belum tidur.

Dengan perasaan heran, Herman pun mengiyakan persyaratan tersebut. Dalam 30 hari itu, Herman selalu menggendong Nina sampai ke meja makan untuk sarapan pagi.

Pemandangan romantis ini membuat Lilo kadang bersorak pada kedua orangtuanya.

“Wah, papa mama romantis banget,” ujarnya girang.

Hal ini membuat Herman sedikit berbesar hati. Namun ia tetap teguh dengan keputusannya. Sementara Nina hanya tersenyum manis penuh makna sambil bergelayut di leher suaminya ketika digendong.

Diam-diam, Herman merasa istrinya makin kurus dari hari ke hari. Setiap gendongannya terasa semakin ringan. Herman memandangi wajah istrinya sesekali ketika menggendongnya sembari mengecup keningnya.

Nina Nampak lelah belakangan ini, kantung matanya sering kelihatan membesar dan ia sering menyandarkan kepalanya ke dada Herman. Hal ini pun membuat Herman sedikit ragu dengan keputusannya.

Tanpa terasa, Herman mulai merasakan cinta kembali bersemi pada hubungannya dengan Nina.

Ia merasa istrinya makin cantik dari hari ke hari, hingga hari penandatanganan surat cerai itu tiba. Saat Herman hendak menggendong Nina di pagi hari ke 31, Nina menahan tangan Herman.

“Kan hari ini sudah lewat. Kamu nggak perlu gendong aku lagi, Mas.” Herman tersenyum saja dan membawa Nina ke meja makan. Ia menyajikan sarapan lalu mengecup kening Nina, “Sarapan aja, Nina. Selamat pagi.”

Begitulah suasana romantis yang terjadi pada pagi hari itu. Namun di akhir sesi sarapan, Nina memberikan surat cerai yang sudah ditandatangani dan dibungkus amplop.

“Ini, Mas. Terima kasih selama ini sudah mencintaiku,” ujarnya sambil menitikkan air mata.

Herman hanya terdiam saat itu, tapi surat itu diterimanya lalu sebelum berangkat ke kantor, Herman menyempatkan untuk memeluk Nina.

Sesampainya di kantor, Herman langsung mendatangi Jenny dan mengatakan bahwa ia tidak akan menceraikan istrinya. Sontak saja, ucapan itu membuat Jenny terkejut lalu melayangkan tamparan ke wajah Herman.

Tamparan keras itu tak membuat Herman emosi, karena bagaimana pun juga ini adalah salahnya sendiri. Tapi untungnya, sejauh ini ia dan Jenny tidak pernah melakukan hubungan badan. Ia masih bisa mengendalikan dirinya selama ini dari berzina.

Sekarang yang ada dibenaknya hanyalah Nina seorang. Ia masih ingat dengan bulir mata Nina yang jatuh hangat di tangannya tadi pagi. Herman merasakan cinta dan membuatnya tak sabar untuk pulang. Ia bahkan menyempatkan diri untuk membeli sebuket bunga paling indah kesukaan Nina dan bergegas pulang sore itu.

Sesampainya di rumah, Herman langsung memaggil-manggil namanya istrinya. Namun panggilan itu tak kunjung dijawab. Hingga ia melihat istrinya sedang terbaring di kamar dengan balutan piyama yang dipakainya tadi pagi.

Namun, perasaan Herman yang awalnya penuh bahagia, tiba-tiba berubah menjadi tangisan pecah. Istrinya yang terbaring di kamarnya itu ternyata sudah tidak bernyawa lagi.

Rupanya selama ini Nina mengidap penyakit parah yang tak sempat disampaikan pada Herman.

Herman lantas menyesal. Ia menyesal karena selama istrinya menahan sakit, ia tidak pernah ada di sampingnya. Ia hanya sibuk dengan Jenny dan perceraian mereka.

Namun itu semua hanya menjadi sebuah penyesalan yang tiada arti. Sebab, seseorang yang dicintainya itu telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.

“Dan sebagian dari dari tanda-tanda kebesaran-Nya adalah Dia menciptakan pasangan–pasangan bagi kalian dari jenis kalian, agar kalian merasa tenang pada pasangan kalian dan Dia menjadikan diantara kalian rasa kasih sayang dan cinta. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda–tanda bagi orang-orang yang berfikir.”(QS. Ar-Ruum: 21).

More From: Berita Menarik