Nasib mu TKI, Muda Diperkosa, Tua Bak Kerja Paksa


Tanpa menafikkan cerita bahagia ribuan Tenaga Kerja Indonesia yang sukses kala merantau sebagai pekerja di Arab Saudi, kisah miris nan mengenaskan jutaan TKI lainnya di Arab seolah tak pernah putus bersambung. Paling tidak, buramnya nasib tertuang jelas dari sejumlah cerita sejumlah TKI yang ditemui di rumah pondokan Migrant Care di Jakarta Timur.

Kisah Imas Tati misalnya. Wanita muda berusia 22 tahun pernah beberapa tahun merantau di tanah Arab. Bagai budak, banyak warga Arab memperlakukan TKI sebagai pelampiasan animal instict mereka.

“Mereka memuaskan nafsu seks dan nafsu membunuhnya pada kami,” ungkap tenaga kerja wanita (TKW) Imas Tati (22).

TKI Muda Diperkosa, Tua Bak Kerja Paksa
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA Komite Independen Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (KOPR-TKI) melakukan aksi teaterikal penyiksaan TKI oleh warga Arab Saudi, di Kedutaan Besar Arab Saudi, Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Senin (22/11/2010).

Dua tahun lalu perempuan asal Majalengka ini bekerja di Kuwait. Di sana dia beberapa kali lolos dari pemerkosaan majikan dan para ponakannya. Terakhir, ia berusaha lolos dari pemerkosaan dengan turun dan jatuh dari lantai tiga apartemen majikannya.

Tulang punggung bagian tengah remuk, kedua tulang sendi telapak kaki patah. Nasib serupa dialami rekannya, Dewiyanti asal Brebes, dan Muslimah asal Tegal Gubuk, Indramayu, Jawa Tengah.

Imas mengatakan, di Arab Saudi, para pembantu perempuan Indonesia diperlakukan sebagai budak.

“Dianiaya dan diperkosa berulang kali oleh majikan dan keluarganya, dijual dan diperas agen-agen penyalur pembantu rumah tangga. Itulah pengalaman saya dan sebagian besar kawan-kawan satu pekerjaan di Arab Saudi,” papar Imas.

Rosnani (48), TKW yang duduk di samping Imas, membenarkan. Soal pekerjaan misalnya, Rosnani menuturkan bak bekerja paksa tanpa waktu istirahat yang cukup, itu pun harus dibayang-bayangi kecemasan akan sulitnya ‘menagih’ gaji ke majikan.

“Kalau sudah tua seperti saya, orang-orang itu engga doyan. Sebagai gantinya, saya diperas bekerja 22 jam setiap hari tanpa libur. Dipukuli, disekap, diludahi, dilempar ke comberan. Saya tidak tahan, akhirnya kabur pulang ke Indonesia dengan uang sendiri. Lolos dari agen juga sudah mujur,” tuturnya.

More From: Berita Menarik