Profesor Harvard University Puji Busway di Jakarta


Proyek bus TransJakarta masih diolok-olok oleh sebagian masyarakat Jakarta karena dianggap tidak mujarab mengatasi macet di ibu kota. Tapi bagi profesor di bidang perancanaan perkotaan dan kebijakan publik Universitas Harvard, Amerika Serikat (AS), proyek tersebut berhasil luar biasa.

“TransJakarta berhasil luar biasa dan prestasinya cukup cemerlang. Dalam waktu singkat sudah bisa membangun jaringan yang panjang,” kata Profesor Tony Gomez-Ibanez dalam diskusi ‘Perbaikan Sistem Angkutan Umum di Jabodetabek Melalui Reformasi Kelembagaan dan Kebijakan”.

Diskusi yang digelar di Stasiun Gambir, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Kamis (23/6/20110), tersebut juga dihadiri oleh Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit dan Wasekjen DPP Organda Dony Saragih.

Tony memaparkan, setidaknya ada empat penyebab wajah transportasi di Jakarta kian kusut. Pertama, jumlah populasi penduduk yang makin padat. Tanpa menyebut jumlahnya, ia mengatakan, populasi penduduk di Jakarta meningkat dua kali lipat tiap 20 tahun.

Kedua, lanjut Tony, pembangunan di Jakarta semakin melebar. Ketiga, pendapatan masyarakat di ibu kota meningkat, sehingga pergerakan penduduk bertambah dua kali lipat dalam 30 tahun ini.

“Keempat, yang juga memerlukan perhatian adalah adalah pindahnya masyarakat ke sarana transportasi roda dua mupun empat. Data yang disebutkan Pak Dony tadi sangat mengejutkan, di mana angkutan umum kehilangan penumpang luar biasa,” katanya.

Dari empat faktor tadi, jelas Tony, faktor pertama paling tidak bisa dikendalikan. Mengerem laju pertambahan penduduk atau memindahkannya ke kota lainnya sangatlah tidak mungkin, karena kota ini merupakan pusat pertumbuhan ekonomi.
http://photo.kontan.co.id/photo/2009/02/11/1467337348p.jpg
“Dan sangat sulit memperpendek perjalanan, karena tidak bisa meminta orang untuk mengurangi perjalanan ketika pendapatan mereka bertambah.,” terangnya.

Karena itu, yang bisa dilakukan adalah mengurangi perpindahan masyarakat dari angkutan umum ke angkutan pribadi. Menurut Tony, pembangunan jalan baru untuk moda transportasi tertentu, seperti Mass Rapid Transit (MRT), tidak akan mengurangi kemacetan secara optimal.

“MRT biayanya mencapai Rp 1 triliun per 1 km. Saat ini ada 37 juta pergerakan penduduk Jakarta setiap harinya, sementara MRT hanya mengangkut 1 persennya saja,” kata dia.

Tony berpendapat, hanya perlu pengoptimalan infrastruktur yang sudah ada saja untuk menata transportasi di Jakarta ini. Sebagai contoh memberi jalan khusus seperti halnya bus TransJakarta. Hanya saja, operasional bus ini masih di bawah kapasitas.

“Pengirisan BBG juga masih menjadi masalah. Namun, penyelesaian masalah ini jauh lebih mudah,” kata Tony.(detik)

More From: Berita Menarik