Cewek cewek ini nekat ganti ganti pasangan agar dapat pinjaman dari Bank


Komplotan penjahat yang telah berkali-kali memperdayai sejumlah kantor cabang dari sebuah Bank plat merah di wilayah Semarang, Jateng diringkus oleh aparat Sat Reskrim Polrestabes Semarang.

Modus operandi yang dilancarkan oleh delapan orang tersangka ini adalah berupaya mengajukan pinjaman atau kredit dengan menggunakan dokumen fiktif.

Sepak terjang mereka selama ini terhitung mulus lantaran persyaratan berupa dokumen yang diminta oleh pihak Bank disulap nyaris sempurna dengan bentuk aslinya.

Dokumen yang dibutuhkan sebagai syarat pengajuan pinjaman sebut saja KTP, KK, sertifikat tanah dan sebagainya dipalsukan secara terampil oleh seseorang yang profesional di bidangnya.

Kabolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji gelar perkara kasus penipuan atau pembobolan bank dengan modus agunan fiktif atau palsu yang dilakukan oleh 8 tersangka, Rabu 22 Februari 2017
Kabolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji gelar perkara kasus penipuan atau pembobolan bank dengan modus agunan fiktif atau palsu yang dilakukan oleh 8 tersangka, Rabu 22 Februari 2017 (tribunjateng/putut dwi putranto)

Bahkan, untuk memantapkan aksinya beberapa diantaranya mengelabuhi pihak Bank dengan mengklaim sebagai pasangan suami istri (Pasutri) yang sah. Secara bergiliran mereka bergonta-ganti pasangan mengklaim sebagai pasutri.

Sebelum mengajukan pinjaman ke Bank, seorang diantara sindikat yang telah terkoodinir ini berperan mencari lahan kosong yang akan digunakan sebagai agunan. Setelah dipastikan lokasi aman, mereka kemudian memalsukan sertifikat tanah.

Kedelapan tersangka tersebut diantaranya Raden Tomy Mifakhurahman (26) warga Kecamatan Candiroto, Temanggung, Iwan Prasetyawan Santoso (35) warga Kecamatan Mranggen, Demak, Ragil Yudi Hermawan (29) warga Kecamatan Singorojo, Kendal, Teguh Suryadi (31), Agus Tristanto (34) dan M Romadhon warga Mangkang, Semarang.

Serta dua orang tersangka perempuan yakni Eka Diana Rachmawati warga Pandansari, Semarang dan Mundhi Mahardini warga Tembalang, Semarang.

“Saya sebenarnya ogah mengaku sebagai suami ragil. Tapi bagaimana lagi ini sudah bagian dari peran kami supaya bisa cair. Sekali cair bisa dapat Rp 5 juta. Semuanya kami ajukan pinjaman ke cabang-cabang Bank BRI,” tutur Mundhi saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Rabu (22/02/2017).

Kabolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji gelar perkara kasus penipuan atau pembobolan bank dengan modus agunan fiktif atau palsu yang dilakukan oleh 8 tersangka, Rabu 22 Februari 2017
Kabolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji gelar perkara kasus penipuan atau pembobolan bank dengan modus agunan fiktif atau palsu yang dilakukan oleh 8 tersangka, Rabu 22 Februari 2017 (TRIBUNJATENG/PUTUT DWI PUTRANTO)

Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abiyoso Seno Aji, menjelaskan, tipu muslihat yang dijalankan oleh para komplotan ini terstruktur rapi. Mereka memegang perannya masing-masing dengan dimotori oleh Iwan dan Teguh sejak November 2016.

“Gagasan ini diotaki oleh Iwan dan Teguh. Mereka berdua berteman baik hingga merekrut lainnya. Teguh ini merupakan mantan karyawan bagian pembiayaan kredit di sebuah Bank, sehingga ia tahu betul apa saja yang dibutuhkan supaya bisa cair pinjaman,” terang Abiyoso.

Kasus penipuan ini, kata Abiyoso, terungkap setelah ada sejumlah laporan dari pihak Bank yang menjadi korban kiprah komplotan ini. Para tersangka mengajukan pinjaman di 28 kantor cabang sebuah Bank terkemuka. Sekali pengajuan pinjaman maksimal Rp 50 juta.

“Saat ini baru kami tangani kerugian di tiga kantor cabang dengan total kerugian Rp 140 juta. Kami masih dalami dan kembangkan kasus ini. Apakah ada keterlibatan pihak dalam, kami juga masih menyelidiki. Jadi setelah uang cair, mereka kabur berpindah kontrakan,” kata Abiyoso.

More From: Berita Menarik