Acara Makan ‘Mayit’ ini Diprotes Kaum Ibu, Tapi Sebenarnya Ini yang terjadi


Palingseru.com  –  Baru-baru ini jagat sosial media diramaikan dengan tagar #makanmayit.

Diketahui, Makan Mayit tersebut merupakan sebuah proyek seni dari seorang seniman bernama Natasha Gabriella.

Proyek tersebut dilakukan di Jakarta, dimana konsepnya adalah jamuan makan malam.

Ia mencoba mengenalkan budaya kanibalisme, Natasha menyajikan menu makanan di sebuah toko di Jakarta Selatan.

Namun, makanan yang disajikan tersebut tak biasa dan membuat orang tercengang melihatnya.

Makanan yang disajikan menyerupai bayi.

Bahkan ada salah satu makanan yang katanya dibuat berasal dari ASI.

Selain itu, wadah yang digunakan adalah boneka bayi yang dipotong-potong.

Tak disangka, foto-foto pyoyek tersebut tersebar luas di media sosial dan memunculkan beragam reaksi.

Ada yang memaklumi dan memandangnya sebagai karya seni belaka, tak jarang pula yang mengecamnya.

Salah satu pendapat dilontarkan oleh netizen pengguna jejaring sosial Instagram, @utiamanda.

Dengan mengunggah gambar tanda tanya berlatar belakang hitam, ia mencurhakan pandangannya terkait proyek seni tersebut.

Seperti ini yang ditulinya :

:Malam ini terjaga karena hati ini ga tenang kalau kejadian ini kemudian dianggap ‘normal’ apalagi keren.

Saya bener2 ga habis pikir, bahkan sampai ga berani bayangin, apa yang ada di pikiran dan hati orang2 yang berada di balik event ‘dinner’ #makanmayit.
Event ini udah 2x ternyata digelar di Jakarta, tapi saya baru tau kejadian yang kemarin.
Gegara melihat postingan teman saya di Instagramnya yang menggambarkan sederet piring dengan boneka bayi plastik ‘dibedel’ jadi tempat makanan.
Pertama ga ngeh saya pikir cover album musik, sampai teman2 di grup Whatsapp membahas event gila ini.
Diskusi sana sini, baca ini itu, termasuk membaca hasil wawancara Vice.com dengan si seniman bernama Tontey ini, saya tetap ga paham, tetap ga masuk akal waras saya, dan tetap sedih atas kejadian ini
.
Sang seniman, yang saya tangkap, sebenarnya ingin menyampaikan pesan (entah apa) tentang kanibalisme terutama di Indonesia, menggunakan boneka bayi dibolongin sebagai ‘piring’ isi makanan, pudding fetus bayi, dan yang paling menyedihkan adalah mereka state kalau menggunakan ASI dan ekstrak keringat bayi di menu ‘dinner’nya.
.
Terlepas dari kalimat hiperbola, entah benar atau tidak, tindakan mereka2 itu SANGAT TIDAK SENSITIF dan kebablasan. Memang saya bodoh tentang seni, ga mendalami ilmu filsafat, but I have common sense, dan semua hal yang terkait dengan kejadian itu sangat tidak pantas.
Kalau mereka bawa2 kebebasan berekspresi, it’s actually their rights mau memandang hidup seperti apa, tapi kalau sudah dibuat jadi konsumsi publik, apalagi orang2 yang ikut dalam pengalaman #makanmayit malam itu justru public figure, lain ceritanya.
Sepertinya mereka lupa, di antara pengikutnya mungkin saja ada anak di bawah umur, remaja yang sedang mencari pegangan hidup, ibu yang berkali2 mengalami (maaf) keguguran, ibu yang bertahun2 mendambakan seorang anak, atau seorang ayah yang baru saja kehilangan anaknya yang masih bayi. Ini harus diSTOP! THIS IS SO WRONG! #protestmakanmayit

Sementara, musisi Kartika Jahja menanggapi berbeda proyek tersebut.

Tanggapan terhadap hebohnya tagar #mayatmayit tersebut dilontarkan melalui akun Instagram miliknya @kartikajahja.

Seperti diketahui, vokalis band Tika and The Dissidents ini merupakan salah satu orang yang menikmati makan malam ala kanibalisme tersebut dalam foto yang beredar di dunia maya.

Dalam tulisannya, Kartika membeberkan alasannya kenapa tertarik menghadiri event seniman tersebut.

Kartika pun meminta maaf jika foto-foto yang dipublik oleh proyek #Makanmayit tersebut memicu orang-orang yang memiliki trauma.

Berikut tanggapan Kartika:

“Menanggapi ramainya respon tentang performance Makan Mayit karya Natasha Gabriela Tontey.”
“Saya tertarik menghadiri karena narasi yg ditawarkan Tontey adalah soal propaganda. Masyarakat modern dikemudikan oleh propaganda: mulai dari film G30S PKI hingga penggambaran siksa neraka dalam komik Tatang S. Kita digiring untuk mempercayai tiap detil yg dipresentasikan sang seniman sebagai kebenaran.”
“Dengan datang ke Makan Mayit, saya ingin menguji diri saya; seberapa jauh saya bisa tergiring oleh propaganda meski saya datang dengan kesadaran penuh bahwa semua adalah rekayasa. Kebetulan, tema kanibalisme juga salah satu ketakutan terbesar saya. Hiii. Tapi kan saya tau bahwa kita tak akan benar2 makan orang.”
“Rupanya Tontey dan tim begitu mahir membangun atmosfer sehingga saya pun perlahan tergiring propagandanya bahwa saya sedang makan yg tabu-tabu meski sebenarnya makan tahu. Di situ saya belajar tentang efektifnya propaganda -audio visual khususnya- dalam membentuk opini dan perspektif.”
“Namun to be fair, saya paham bila foto2nya terasa shocking bagi yg tidak hadir atau belum memahami konteksnya. Saya dan peserta lainnya memang memilih utk datang, dan kami siap dengan shockers yg dihadirkan. Namun ketika foto2 dipublikasikan di medsos, mungkin bisa jadi triggering untuk beberapa orang yang memiliki trauma.”
“Bila demikian, saya sampaikan maaf saya dengan tulus. Seharusnya saya memberi semacam Trigger Warning atau penjelasan dalam caption yang lebih jelas. Oleh sebab itu, video dan foto perjamuan saya hapus untuk menghindari trauma trigger, namun bukan sebagai bentuk penyensoran terhadap karya Tontey.”
“Setiap orang punya kebebasan untuk menginterpretasikan karya seni, boleh suka boleh tidak. Kritik sangat penting bagi seniman, tapi buatlah sedikit effort untuk memahami sebelum berpendapat. Dengan berdialog, mungkin kita bisa berubah pikiran, atau sebaliknya si seniman yg mendapatkan perspektif baru. Kalo menghujat, ya gak dapat apa2. Hehehe.”

tribun

More From: Aneh Unik