30 Agustus1982: Arafat dan PLO Tinggalkan Lebanon


Arafat PLO

Pada tiga puluh tahun lalu, mendiang Yasser Arafat beserta pimpinan lain Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) terpaksa meninggalkan Beirut, Lebanon, setelah bermarkas selama lebih dari satu dekade di sana. Para pejuang Palestina itu harus mengungsi setelah serangan Israel atas Lebanon tiga bulan sebelumnya.

Menurut stasiun berita BBC, Israel masuk ke Lebanon setelah upaya pembunuhan atas duta besar mereka untuk Inggris di London. Mereka mencurigai PLO sebagai pihak yang bertanggungjawab atas insiden itu.

Awalnya, militer Israel hanya menyerbu selatan Lebanon untuk menumpas para gerilyawan Palestina. Namun, pasukan Zionis itu meneruskan invasi militer ke  Beirut. Ibukota Lebanon itu menjadi markas bagi PLO, yang dipimpin Arafat.

Sebagai kelompok utama perjuangan bagi bangsa Palestina, PLO dianggap Israel sebagai kelompok teroris setelah terjadi sejumlah insiden, termasuk pembunuhan para atlet Israel di Olimpiade Munich, Jerman Barat, pada 1972. Diincar oleh Israel yang telah masuk ke Lebanon, Arafat dan para pimpinan lain PLO terpaksa mengosongkan kantor mereka untuk mengungsi dengan menggunakan kapal.

Kepergian Arafat itu disambut dengan kesedihan oleh ribuan warga Palestina yang tinggal di Beirut. Di saat yang sama, 2.000 tentara Suriah, yang menjadi simpatisan Palestina, juga meninggalkan ibukota Lebanon.

Pimpinan dan para pejuang PLO akhirnya terpencar ke beberapa negara, seperti Siprus, Yordania, Suriah, Irak, Sudan, Yaman, Tunisia, dan Yunani. Namun PLO punya markas baru di Tunisia hingga dekade 1990-an.

Berkat perjanjian damai antara PLO dan Israel, Arafat dan para pejuang lain akhirnya bisa pulang dan menetap di Tanah Palestina, yang saat ini terdiri dari sebagian Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dia terpilih menjadi Presiden Palestina dari 1996 hingga akhirnya wafat pada November 2004.

Mahmoud Abbas terpilih menggantikan Arafat sejak Januari 2005. Hingga kini Palestina dan Israel masih berseteru memperebutkan wilayah kedaulatan.

baca juga: 10 Sengketa Wilayah Paling Kontroversial

More From: Hari Ini