Pernah Kumpul Kebo, Pria ini Syok Pacarnya Malah Nikah dengan Orang Lain


   

Palingseru.com – Jodoh memang tidak pernah ada yang tahu. Orang yang sedang menjalin hubungan dengan kita pun belum menjamin bahwa dia adalah jodoh kita. Kisah pasangan berikut ini, buktinya.

Sebut saja Dani (nama samaran, Red) dan Sisi (nama samaran, Red) menjalin hubungan asmara selama kurang lebih dua tahunan. Selama itu, keduanya tinggal bersama di satu kontrakan.

Dani sendiri berasal dari keluarga yang kaya raya, namun ia tidak pernah memberitahukan hal itu pada Sisi karena ingin mengetes apakah kekasihnya itu sama seperti mantan-mantannya yang dahulu, yang hanya tertarik pada harta kekayaan keluarganya.

Namun ternyata tidak. Sisi sangat berbeda dari mantan-mantannya dahulu. Bahkan Sisi sangat rajin, ulet dan pekerja keras. Sisi memang berasal dari keluarga sederhana, ayahnya cacat sementara ibunya sakit-sakitan dan menanam sayur di kebun sendiri, melansir tribunpalembang.com.

Hal itulah yang menjadi pendorong Sisi agar terus giat bekerja. Dia bahkan berani merangkap dua pekerjaan sekaligus, demi membiayai hidup kedua orang tuanya.

Selama tinggal bersama, meski Dani selalu dikirim uang oleh ibunya, namun justru Sisi lah yang menanggung semuanya.

Hal itu dilakukan Dani agar tidak ketahuan. Tapi dia berniatan akan mengembalikan semuanya kelak setelah dia menikah dengan Sisi.

Setelah berlangsung selama dua tahun hidup bersama, Dani pun mengungkapkan secara terus terang bahwa dia berasal dari keluarganya.

Namun reaksi Sisi biasa-biasa saja, tidak menunjukkan banyak kegembiraan.

Hingga suatu ketika, ibunya Sisi datang menemuinya, dan saat itu bermaksud meminjam uang kepada Dani karena ibunya harus dirawat ke rumah sakit.

Tapi Dani malah memiliki pemikiran yang tidak-tidak. Apalagi jumlah yang mau dipinjam tergolong besar sekitar 15 juta rupiah.

Dia pun berpikir kalau Sisi sudah tahu kalau dia punya uang.

Dani lantas tidak memberikan pinjaman, dan Sisi pun marah saat itu lalu mengusulkan untuk putus saja. Sementara Dani juga marah dan mengabaikannya.

Tapi setelah kejadian itu, Dani merasa sangat bersalah.

Dia pun pergi ke rumah sakit menjenguk ibu Sisi sambil membawa buah-buahan.

Tapi Sisi memintanya untuk tidak mengganggu hidupnya lagi.

“Sisi benar-benar tega,” pikirnya sembari menganggap jika Sisi sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskannya.

Dani berpikir kalau Sisi masih kesal dan marah kepadanya.

Sejak saat itu, komunikasi keduanya terputus. Setelah tiga bulan berlalu, Dani tiba-tiba mendapat kabar jika Sisi akan menikah.

Dani tidak percaya dengan kabar itu, lalu dia pergi menemui Sisi dengan membawa mobil sportnya.

Namun ternyata kabar itu memang benar adanya. Sisi menikah dengan pria yang ternyata lebih kaya dari keluarganya.

Satu bulan setelah pernikahannya, Dani kembali menemui Sisi dan mengatakan bahwa dia sama saja seperti mantan-mantannya yang matre.

Perkataan itu sontak membuat hati Sisi kesal, dan lalu menangis.

Tapi dia tidak ingin diam begitu saja, Sisi langsung mengeluarkan semua isi hatinya.

“Kita bersama selama dua tahun, aku sebenarnya sudah tahu kamu berasal dari keluarga berada, tapi kamu tidak pernah mau membantuku saat itu.”

“Membiarkan aku sendiri bekerja dua pekerjaaan sekaligus untuk membiayai hidup kita, kamu tidak acuh tak acuh dengan uang kontrakan rumah.”

”Dan saat ibuku butuh bantuan, kamu juga berpangku tangan.

“Sekarang, aku memang sangat mencintai uang, siapa sih yang tidak mau menikah dengan pria yang lebih mapan ?”

”Apa salahnya seorang gadis yang memiliki sedikit syarat (wajah yang cantik) menikah dengan orang kaya ?”

”Aku memang mencintai uang, tapi aku juga pernah lebih mencintaimu dengan tulus, namun kamu sendiri tidak pernah memberiku bantuan dan perhatian apa pun,” kata Sisi yang langsung membuat Dani tersadar.

Dia pun menyesal dan ingin menebus rasa bersalah itu.

Tapi Sisi mengatakan bahwa semua itu sudah terlambat.

“Sekarang aku berusaha mencoba mencintai pria yang telah menjadi suamiku sekarang.”

”Dia sangat baik pada orangtuaku, dan sangat lembut juga penuh perhatian kepadaku…”

More From: Cinta