Pria ini Pasrah dan Bingung gara gara Rumahnya tidak ada jalan untuk keluar. Terblokade Tembok Tetangga


Foto: Istimewa

Palingseru.com – Eko Purnomo (37) harus pasrah melihat rumah peninggalan orang tuanya terbengkalai. Eko sekeluarga serta adik-adiknya terpaksa ‘terusir’ dari rumahnya gegara tak punya akses akibat terblokade tembok tetangga.

Rumah Eko berada di tengah-tengah permukiman warga di RT 05 RW 06 Kampung Sukagalih, Desa Pasirjati, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, Jabar. Sudah bertahun-tahun, rumahnya terpaksa ditinggalkan akibat tak memiliki akses ke rumah.

“Sekarang rumahnya memang kosong tidak ditempati. Karena kita sudah pasrah,” ucap Eko saat dihubungi detikcom pada Senin (10/9) kemarin.

erblokadenya rumah Eko berawal pada tahun 2016. Dua orang warga, membeli tanah yang berada di depan dan samping rumah Eko. Sang pembeli, lantas mulai membangun di tahun yang sama. Pembangunan rumah itu dilakukan dengan membabat sebuah gang yang menjadi jalur masuk ke rumahnya.

“Nah yang saya herankan, kenapa dibangunnya berbarengan? Padahal pemiliknya berbeda,” katanya.

Eko sempat berunding dan mengajukan penawaran kepada pemilik tanah yang di depan rumahnya untuk membeli sebagian tanah agar rumah Eko memiliki akses jalan sebesar Rp 10 juta. Namun sambung Eko, pemilik tanah tidak mau memberikan.

“Pemilik yang rumah depan sempat nawarin total semuanya dengan sertifikat minta 167 juta (rupiah). Kalau yang samping tetap tidak mau dengan alasan tertentu,” kata Eko.Eko tak memiliki uang sebanyak itu. Dirinya pasrah tetangga depan rumahnya itu membuat bangunan dua tingkat. Adik Eko yang sempat tinggal di rumah itu juga terpaksa angkat kaki dari rumahnya sendiri.

“Saya ngobrol dengan adik saya. Akhirnya pasrah saja dibangun. Padahal sudah ada solusi saya mau memberikan uang sepuluh juta (rupiah),” tuturnya.

Eko dan kedua adik serta ayahnya kini sudah berpisah. Eko masih tinggal di daerah Ujungberung dengan mengontrak rumah, adiknya di Tanjungsari dan Ujungberung.

“Kalau ayah saya dibawa ke Jawa, karena memang ada gangguan juga. Kemarin saya ngehubungi ayah saya, yang dibicarakan lagi-lagi rumah. Saya nangis dan bingung harus bagaimana, akhirnya saya posting rumah yang niatnya mau dijual, saya tawarkan 150 juta (rupiah) di bawah NJOP, tapi komentarnya malah caci maki enggak ada akses jalan,” kata Eko.

Eko sempat memberikan foto secarik kertas denah kediamannya. Dalam denah yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional (BPN), rumah Eko memang memiliki akses jalan berupa gang kecil.

“Di situ kan terlihat ada tulisan gang, nah entah kenapa justru dibangun, jadinya enggak ada akses jalan. Depannya rumah saya itu harusnya yang siku di gambar, tapi malah dibangun,” kata Eko.

Baca juga: Rumah di Bandung Terblokade Tetangga, Mang Oded Telepon Camat

Anehnya, kasus yang dialami Eko justru tak sampai ke telinga Camat Ujungberung Taufik. Taufik menyebut bahwa aparat kewilayahan tak menerima laporan soal permasalahan itu.

“Kita enggak menerima laporan,” kata Taufik saat dihubungi.

Kendati demikian, Taufik berjanji akan mencarikan solusi yang baik untuk kedua belah pihak. Sebab bagaimana pun, sambung dia, warga berhak atas akses jalan menuju ke rumahnya.

“Kita musyawarahkan dulu jadi masyarakat bisa masuk ke dalam yang punya bangunan enggak terganggu harus musyawarah dan harus cari solusinya yang terbaik. Kalau dari saya, akses jalan itu diperlukan. Masyarakat harus diberi jalan, akses jalannya harus ada,” ucap Taufik.

Pihak Kecamatan Tidak Tahu

Aparat kewilayahan Ujungberung Bandung belum mengetahui persoalan yang dihadapi Eko Purnomo (37) terkait rumahnya yang ‘terkepung’ bangunan lain. Namun pihak kewilayahan akan mencari solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.

“Kalau dari saya, akses jalan itu diperlukan. Masyarakat harus diberi jalan, akses jalannya harus ada,” ucap Camat Ujungberung Taufik kepada detikcom via sambungan telepon, Senin (10/9/2018).

Taufik menyebut pihaknya tidak tahu menahu persoalan nihilnya akses jalan untuk Eko memiliki rumah di Kampung Sukagalih RT 05 RW 06, Desa Pasirjati, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, Jabar tak memiliki akses jalan.

“Kita enggak menerima laporan,” katanya.

Kendati demikian, pihaknya tetap akan mencari solusi untuk menengahi permasalahan tersebut. Menurutnya, perlu musyawarah untuk mencari jalan keluar.

“Kita musyawarahkan dulu jadi masyarakat bisa masuk ke dalam yang punya bangunan enggak terganggu harus musyawarah dan harus cari solusinya yang terbaik,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, rumah Eko ‘terkepung’ tembok tetangga sejak lahan kosong di depan dan pinggir rumahnya dibangun bersamaan pada 2016 lalu.

Eko mengaku sempat berunding dan mengajukan penawaran kepada pemilik tanah yang di depan rumahnya untuk membeli sebagian tanah agar rumah Eko memiliki akses jalan sebesar Rp 10 juta. Namun sambung Eko, pemilik tanah tidak mau memberikan.

“Pemilik yang rumah depan sempat nawarin total semuanya dengan sertifikat minta Rp167 juta.. Kalau yang samping tetap tidak mau dengan alasan tertentu,” kata Eko.

Eko tak memiliki uang sebanyak itu. Alhasil, dirinya pasrah tetangga depan rumhnya itu membuat bangunan dua tingkat. Adik Eko yang sempat tinggal di rumah itu juga terpaksa angkat kaki dari rumahnya sendiri. Kini rumah itu tidak ia tinggali.

Rumah Eko memang tidak terlihat dari jalan. Ketua RT yang enggan disebutkan namanya sempat menunjukkan bangunan depan rumah yang menutupi rumah Eko. Untuk melihat rumah Eko, memang harus naik ke genting rumah warga lain.

More From: Berita Menarik