Peneliti di Luar Negeri sampai Bingung Akan Keanehan yang Terjadi pada Gempa di Palu


via: tribunnews.com

Palingseru.com – Gempa dan tsunami yang menghantam Kota Palu, Donggala dan sekitarnya kini menuai perhatian dan sorotan khalayak dunia.

Bukan hanya karena bencana dan jumlah korban yang berjatuhan, namun juga penyebab dari gempa bumi yang kemudian menimbulkan tsunami hingga menghancurkan kota tersebut.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, terjadi gempa di Palu disebabkan adanya aktivitas sesar atau patahan Palu-Koro.

Sekedar informasi, sesar atau patahan kerak Bumi adalah hasil aksi gaya lempeng tektonik yang membentuk batas-batas antara lempeng, seperti zona subduksi atau sesar transform.

Sementara Kota Palu sendiri terdapat sesar berdimensi cukup besar. Sehingga hal ini membuat Palu menjadi daerah yang cukup rawan terkena gempa.

Meski demikian, para peneliti di luar negeri dibuat kebingungan dan kaget terkait keberadaan tsunami yang menghempas Kota Palu. Pasalnya mereka menilai, gempa berkekuatan 7,4 SR yang berasal dari sesar Palu-Koro kecil sekali kemungkinan untuk bisa menciptakan kerusakan begitu parah.

“Kami (peneliti) mengira ini (gempa) bisa menyebabkan tsunami namun tidak sebesar itu,” ungkap Jason Patton, ahli Geofisika dari Humboldt State University California, dikutip dari BangkaPos.com.

“Ketika peristiwa ini terjadi kami lebih akan menemukan sesuatu hal-hal yang belum kami amati sebelumnya,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) Sumandaru Prihatmoko menjelaskan adanya tiga kemungkinan yang terjadi dari gempa dan tsunami.

“Yang pertama dia tetap bergeser, tapi di tempat lain dia memicu adanya longsor bawah laut. Begitu longsor, ada massa tanah atau batuan yang menimpa air laut yang membuat tsunami.”

“Yang kedua, si patahan tadi itu memicu bergeraknya atau naiknya patahan di tempat lain. Kalau di peta saya, ke arah selat Makassar. Itu kita duga bisa terpicu penyebab tsunami.”

“Kemudian yang ketiga, ada flower structure. Harusnya dia bergeser biasa, tapi di satu titik di dasar laut, ada titik yang berkumpul dan membuat pola seperti bunga. Itu mendesak air di atasnya dan menimbulkan tsunami,” demikian jelas Sumandaru.

More From: Berita Menarik