Bunga Cinta: Bunga dari Kondom Karya Halal Para PSK


BLITAR – Proses alih profesi sejumlah pekerja seks komersial (PSK) penghuni di lokalisasi Poluhan, Desa Kendalrejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, menghasilkan karya unik. Guna mempersiapkan diri untuk mencari penghasilan yang halal, mereka membuat aneka bunga dengan bahan baku dari kondom.

Bunga Cinta: Bunga dari Kondom Karya Halal Para PSK

Latihan ketrampilan itu diberikan oleh pendampingan para penghuni lokalisasi, Vincent Wiwik.

”Bunga dari kondom itu kami namakan ‘Bunga Cinta’. Setiap batangnya dijual seharga Rp 2.000,” terang Wiwik ditemui disela-sela ada razia oleh Satpol PP Kabupaten Blitar, Selasa (5/7/2011)

Ketrampilan semacam membuat bunga itu amat diperlukan agar para penghuni lokalisasi dapat alih profesi. Sejak diberlakukannya Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2008   tentang Penanganan dan Pelarangan WTS-PTS di Kabupaten Blitar, sudah jarang sekali ada ‘pelanggan’,  sementara mereka  tetap membutuhkan uang untuk terus makan.  Menurut Wiwik, ‘Bunga Cinta’ sudah ada yang membeli sehingga sedikit banyak ada penghasil bagi mereka.

“Sudah ada investor dari Surabaya yang akan membelinya dengan harga Rp 2.000 per tangkai. Selain itu, bunga ini juga akan kami jual ke pasar. Kami yakin dengan keunikan bunga serta misi sosial yang kami emban pasti banyak masyarakat yang tersentuh untuk membelinya,” harap Wiwik.

Terkait soal penanganan para penghuni lokalisasi, Wiwik mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah. Pasalnya Wiwik mengetahui anggaran untuk pelatihan para PSK cukup besar, namun pelaksanaannya terkesan asal-asalan dan tidak terprogram.

“Pada kenyataannya praktik pelatihan selama sosialisasi hanya dilakukan tiga kali dan tidak berkelanjutan,” ungkap Wiwik, “Ini harusnya jadi tanggung jawab bersama-sama. Mereka tidak harus menjadi WTS, tapi mempunyai profesi yang bisa diterima masyarakat,” imbuh Wiwik.

Di Kabupaten Blitar, ada tiga lokalisasi yang beroperasi, yaitu Lokalisasi Ngreco Kecamatan Selorejo, lokalisasi Tanggul Pasir Harjo Kecamatan Talun, dan di Poluhan Kecamatan Srengat.

Jumlah penghuni di tiga tempat itu sekitar 180 orang. Hampir 80 persen dari penghuni itu berasal dari luar kota. Seluruh lokalisasi itu juga sudah diberi papan pengumuman penutupan, tetapi saat ini sudah dibuang oleh para penghuni. Hingga kini, aktivitas di tempat itu masih ada, walaupun sudah ditutup. (tribunnews.com)

More From: Berita Menarik