Ini Kisah Mukidi Humor yang Sedang Viral di Media Sosial. Mau Tahu Seperti Apa


004795400_1426593701-h (1)

palingseru.com – Selain Abunawas, ternyata Indonesia juga memiliki sosok lucu lainnya. Dia adalah Mukidi. Mukidi sendiri bukanlah sosok manusia sungguhan, melainkan fiktif belaka. Beberapa hari terakhir ini namanya menjadi perbincangan pengguna media sosial.

Pasalnya, sejumlah kisahnya berhasil membuat siapa saja yang membacanya tertawa terbahak-bahak. Kisah ini bermunculan di blog Ceritamukidi.

Dalam blog tersebut, ada sekumpulan cerita-cerita lucu tentang si Mukidi. Mulai dari cerita dia bersama gajah sampai ia merdeka. Nah, bagi kamu yang belum pernah mendengar dan membaca cerita Mukidi pasti penasaran bukan?

Berikut beberapa kumpulan kisah Mukidi yang dijamin akan mengocok perut kamu, dikutip Liputan6.com, Jumat (26/8/2016):

*Mukidi dan Gajah

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00. Maka para siswa di sekolah pun berlaran memasuki kelasnya masing-masing, termasuk Mukidi. Pagi itu, Mukidi memutuskan untuk duduk di bangku paling depan. Karena teman yang menduduki bangku itu sedang tidak masuk. Dan kebetulan pelajaran hari itu adalah Bahasa Indonesia. Yang merupakan pelajaran kesukaan Mukidi.

Di pelajaran itu, Guru Mukidi mengajak murid-muridnya untuk bermain tebak-tebakan nama hewan. Berikut dialognya

Guru: “Anak-anak, apa nama binatang yang dimulai dengan huruf G ?”.

Mukidi berdiri dann menjawab: “Gajah, bu guru !”

Guru: “Bagus, pertanyaan berikutnya. Apa nama binatang yang dimulai dengan huruf ‘D’ ?”

Semua murid diam, tapi Mukidi kembali berdiri: “Dua gajah, Bu Guru…”

(gerrr sekelas)…

Guru: “Mukidi, kamu berdiri di pojok sana !

Ayo anak-anak kita lanjutkan. Pertanyaan berikut, binatang apa yang dimulai dengan huruf “M”?

(Semua murid terdiam).

Tapi lagi-lagi Mukidi menjawab dengan tenang, “Mungkin Gajah…”

Guru: “Mukidi, kamu keluar dan berdiri di depan pintu !”

(Mukidi keluar dengan suuedihhh. Guru melanjutkan).

Guru: “Pertanyaan terakhir. Anak-anak, binatang apa yang dimulai dengan huruf “J”?

(semua diam).

(Tak lama sayup-sayup terdengar suara Mukidi dari luar kelas)

Mukidi: “Jangan-jangan Gajah”

Saking kesalnya, Bu Guru menyuruh Mukidi pulang….

Guru: “Sekarang anak-anak, binatang apa yang diawali dengan huruf P ?”

(Sekali lagi semua murid terdiam).

(Tiba-tiba HP bu Guru berdering).

Guru: “Ya hallo…”

HP: “Maaf bu, saya Mukidi. Jawabannya: Pasti Gajah”

*Ayam Goreng

Suatu hari lapar melanda Mukidi. Perasaan lapar itu pun langsung menghantarkan Mukidi ke sebuah rumah makan. Di rumah makan itu, ia memesan ayam goreng. Tak lama kemudian sebuah ayam goreng utuh tersaji di depannya. Namun, ketika ia hendak melahapnya, tiba-tiba saja seorang pelayan datang tergopoh-gopoh.

“Maaf Mas, kami salah menyajikan. Ayam goreng ini pesanan bapak pelanggan yang di sana,” kata pelayan sambil menunjuk seorang pria berbadan kekar dan berwajah preman.

(Akan tetapi karena sudah terlanjur lapar, Mukidi ngotot bahwa ayam goreng itu adalah haknya).

(Pria bertampang preman itu segera menghampiri meja Mukidi dan menggertaknya).

“AWAS kalau kamu berani menyentuh ayam itu…!!! Apa pun yang kamu lakukan kepada ayam goreng itu, akan aku lakukan kepadamu. Kamu potong kaki ayam itu, aku potong kakimu. Kamu putus lehernya, aku putus lehermu..!!!”

(Mendengar ancaman seperti itu, Mukidi hanya tersenyum sinis sambil berkata, “Silakan! siapa takut?”

Lalu Mukidi segera mengangkat ayam goreng itu dan menjilat pantatnya).

*Mukidi Muncul Lagi

Masih dalam suasana kelas yang ramai, Guru pun mencoba bertanya kepada seluruh muridnya mengenai surge dan neraka.

Guru bertanya: “Anak-anak… Siapa yg mau masuk surga..?”

(Serempak anak-anak menjawab “Sayaaaa..!”)

(Mukidi yang duduk di belakang diam saja).

Bu guru bertanya lagi: “Siapa yang mau masuk neraka..??”

Anak-anak: “Tidak mauuuu….!!!” Mukidi tetap diam saja.

Bu guru mendekat: “Mukidi, kamu mau masuk surga atau neraka…?

Mukidi: “Tidak kedua- duanya bu guru…”

Bu guru: “Kenapa..?”

Mukidi: “Habis waktu ayah saya mau meninggal, beliau berpesan, ‘Mukidi, apa pun yang terjadi kamu harus masuk TENTARA…!”

*Kisah Mukidi yang Terlalu Sayang Sama Istrinya

Suatu hari istri Mukidi yang bernama Markonah melahirkan anak pertama mereka. Mukidi pun buru-buru ke rumah sakit dan disuruh masuk untuk mendampingi istrinya selama proses persalinan. Setelah proses persalinan selesai, Mukidi langsung mengecup kening istrinya sambil berkata:

Mukidi: Alhamdulillah… anak kita perempuan, makasih yaa, sayaang…

Istri: Iyaa, kang

Mukidi: Sakit yaa, sayang…?

Istri: Iyaa kang…sakiit banget!

Mukidi: Yaaank… aku sayaaang banget sama kamu… aku ga tega

Istri: Iyaa kang…!

Mukidi: Nanti kalau untuk anak kedua titip sama yang lain aja yaaa… jangan dari kamu lagi, aku ga tega, yaang.

Istri: …??????????…

*Mukidi Merdeka!

Mukidi memiliki seorang tetangga yang bernama Jaya. Meski tinggal bersebelahan, tetapi Mukidi dan Jaya tidak pernah akur. Mukidi selalu merasa bahwa Jaya adalah saingannya.

Hingga suatu ketika, Jaya membeli sepeda baru. Mukidi yang melihat itu pun tak mau kalah. Mukidi membeli sepeda baru juga.

Ketika menjelang Lebaran, Jaya mengecat rumahnya dengan warna merah. Lagi-lagi, Mukidi tak mau kalah. Mukidi pun mengecat rumahnya dengan warna merah juga.

Dan di saat hari 17 Agustus-an, Jaya memasang spanduk di depan rumah bertuliskan “INDONESIA TETAP JAYA”.

Dengan perasaan kesal dan panas, Mukidi memasang spanduk juga dengan tulisan “INDONESIA TETAP MUKIDI”.

More From: Aneh Unik