Wawancarai 100 Pemerkosa di India, Cewek ini Temukan Fakta yang Mengejutkan


Palingseru.com – Jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang ada di dunia, India bisa disebut sebagai negara paling buruk bagi kaum wanita.

Betapa tidak, di sana, kasus pemerkosaan bisa terjadi hingga 5 sampai 10 dalam seharinya.

Bahkan tak jarang perbuatan asusila ini diakhiri dengan kekerasan fisik, yang hingga akhirnya menewaskan para korban.

Melihat hal ini, seorang mahasiswi dari Universitas Anglia Ruskin, Inggris, bernama Madhumita Pandey tergerak untuk melakukan wawancara terhadap para pemerkosa di negara tersebut.

“Mengapa orang-orang ini melakukan hal tersebut? Kami menyebut mereka sebagai ‘monster’ karena kami pikir tidak ada manusia normal yang bisa berbuat sekejam itu. Saya berpikir, apa yang mendorong orang-orang ini? Apa yang membuat pria memperkosa? Saya memutuskan untuk menanyakan kepada sumbernya langsung,” terangnya terkait alasan wawancara yang ia lakukan.

Menurutnya, sudah ada sekitar 100 pemerkosa di Penjara Tihar, New Delhi, yang berhasil ia wawancarai selama tiga tahun ini.

Dan sebanyak itu pula, ia dikejutkan akan fakta-fakta dari para pelaku pemerkosa.

Salah satunya soal pendidikan. Ya, ternyata para pelaku pemerkosa tidak berpendidikan. Dari 100 orang yang ia wawancarai, hanya beberapa saja yang bisa menyelesaikan pendidikan sampai SMA, sisanya hanya lulusan kelas tiga sekolah dasar (SD).

“Ketika saya memulai penelitian, di benak saya tertanam bahwa orang-orang ini adalah ‘monster’. Tetapi ketika berbicara langsung, saya baru menyadari mereka bukanlah pria luar biasa. Mereka hanya pria biasa yang dibesarkan dengan pola pikir yang salah,” katanya, seperti dikutip merdeka.com, Jumat (15/9).

“Para pria itu memiliki gagasan yang salah tentang arti maskulinitas sedangkan wanitanya cenderung bersikap seperti penurut. Hal tersebut juga terjadi dalam rumah tangga sehingga kasus pemerkosaan rentan terjadi.”

Selain karena faktor pendidikan yang minim, Pandey juga memaparkan bahwa meningkatnya kasus pemerkosaan di India karena tidak mendapat pendidikan seks sejak usia dini.

“Mereka tidak diajarkan tentang pendidikan seks selama di sekolah. Orangtua bahkan tidak menggunakan kata-kata seperti penis, vagina, pemerkosaan, atau seks dalam kehidupan sehari-hari sehingga para pria itu bahkan tidak tahu kalau yang mereka perbuat (memperkosa) adalah kesalahan,” ujarnya.

Kendati demikian, ada juga yang mengaku bahwa perbuatannya salah dan menyesali perbuatannya.

“Ada seorang pelaku yang mengaku memperkosa bocah lima tahun. Dia menyadari perbuatannya salah dengan mengatakan, ‘ya saya merasa tidak enak. Saya membahayakan nyawa dia dan membuat dia tidak perawan lagi. Saat besar tidak akan ada yang mau menikahinya. Tapi saya akan menerimanya, saya akan menikahinya saat keluar dari penjara,'” kata Pandey menirukan kata-kata pelaku.

More From: Berita Menarik