Pengakuan Mengejutkan Eks-Cakrabirawa. Temui Soeharto sebelum Culik Para Jenderal


Palingseru.com – Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G302/PKI) terus jadi pembahasan di berbagai media online hingga saat ini. Berbagai fakta pun kian terungkap seiring dengan penayangan film pasukan yang dikenal kejam dan sadis tersebut.

Terbaru, munculnya pengakuan mengejutkan dari mantan Cakrabirawa. Pengakuan ini dikonfirmasi dari video dokumenter berjudul “Kami Hanya Menjalankan Perintah, Jenderal!” yang diunggah di situs Youtube pada Minggu (1/10/2017) lalu.

Film yang dibuat oleh Gerilya Pak Dirman film dengan sutradara Ilman Nafai itu berisikan pengakuan dari tiga prajurit eks Cakrabirawa Pasukan Pengawal Presiden Soekarno. Mereka adalah Sulemi, Iskak dan Masruri. Ketiganya mengaku, saat itu doktrin Carkrabirawa menyatakan bahwa prajurit dilarang melawan perintah atasan. Apapun yang diperintahkan atasan harus dilakukan, mengutip suratkabar.id.

Menemui Soeharto

Kala itu, Sulemi mendapat erintah menjemput Jenderal A.H Nasution, karena ada kabar bahwa pada 5 Oktober akan digelar pertemuan dewan jenderal untuk mengadakan kup pada Presiden Soekarno.

“Ya karena memang betul pada waktu itu ada informasi akan ada kup dari dewan jenderal ke pimpinan besar revolusi Bung Karno, sehingga perlu diadakan pencegahan,” papar Sulemi.

Namun, ketika dijemput, lanjut Sulemi, A.H Nasution malah loncat dari jendela untuk melarikan diri. Hal inilah yang membuat dia dihantam tembakan para prajurit karena dianggap telah membangkang perintah presiden.

“Berarti apa yang mau dilakukan Pak Nas itu menurut para pengertian para prajurit ya benar mereka membangkang perintah padahal Bung Karno itu panglima tertinggi,” katanya.

Sementara itu, diakui oleh Iskak, bahwa sebelum adanya penculikan para jenderal TNI AD, dia sempat dijemput Letkol Untung untuk menemui Soeharto di rumah sakit karena Tommy Soeharto tersiram sup panas dan harus dirawat.

Sebelum berangkat, dia diminta untuk membawa dua senjata pistol. Namun sesampainya disana, ketika mereka mendatangi Soeharto untuk melapor, hanya didiamkan.

“Latif dan Untung laporan besok ada ini ini begini begini kudeta tapi pak Harto diam saja,” kata Iskak.

Iskak mengaku, dirinya baru mengetahui para jenderal TNI AD diculik setelah tugasnya selesai.

Sedangkan Masruri mengaku mendapat tugas menjemput Jenderal Suprapto kala itu.

Ketiganya mengaku bahwa hari penculikan jenderal TNI AD itu mereka hanya menjalankan perintah atasan. Mereka bahkan tidak tahu menahu kalau soal penculikan itu ada berkaitan dengan PKI.


Like it? Share with your friends!