Usal Tsunami di Selat Sunda, Muncul Penampakan Tak Biasa di Dasar Laut Selat Sunda, Apa Akan Timbul Bencana Lagi?


via: hot.grid.id

Palingseru.com – Bencana erupsi dan tsunami yang disebabkan aktivitas Gunung Anak Krakatau belasan hari lalu tidak hanya memakan korban jiwa dan menghancurkan pemukiman warga, namun juga menimbulkan kekhawatiran saat ini.

Itu karena TNI Angkatan Laut menemukan ‘penampakan’ tak biasa di dasar laut Selat Sunda.

Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) menemukan adanya pendangkalan atau perubahan kontur kedalaman 20 sampai 40 meter lebih dangkal di dasar laut di Selat Sunda.

Tak cuma itu, TNI AL juga menyebut adanya perubahan bentuk morfologi Gunung Anak Krakatau setelah terjadinya erupsi dan longsoran yang menyebabkan tsunami di perairan Selat Sunda, Sabtu (22/12/2018) lalu.

Hasil tersebut diperoleh dari hasil survei hidro-oseanografi dan investigasi di area longsoran Gunung Anak Krakatau yang dilakukan oleh tim Pushidrosal dengan menggunakan kapal survei KRI Rigel-933, melansir Hot.Grid.id.

via: hot.grid.id/ KRI Rigel-933

“Pengamatan visual radar dan analisis dari citra ditemukan perubahan morfologi bentuk Anak Gunung Krakatau pada sisi sebelah barat seluas 401.000 m2 atau lebih kurang sepertiha bagian lereng sudah hilang dan menjadi cekungan kawah yang menyerupai teluk,” jelas Kapushidrosal Laksda TNI Dr. Ir. Harjo Susmoro, S.Sos., S.H., M.H.

“Pada cekungan kawah ini masih dijumpai semburan magma Gunung Anak Krakatau yang berasal dari bawah air, laut,” tambahnya.

Sementara itu, BMKG justru menemukan retakan baru di badan Gunung Anak Krakatau.

Kepala BMKG, Prof Dwikorita Karnawati mengungkapkan, terdapat dua retakan baru dalam satu garis lurus di salah satu sisi badan Gunung Anak Krakatau.

Dampak retakan itu sendiri sangat mengerikan. Sebab dapat memicu terjadinya tsunami susulan. Hal ini dikarenakan kondisi bawah laut Gunung Anak Krakatau saat terdapat jurang di sisi barat hingga selatan.

“Yang kami khawatirkan di bawah laut curam, di atas landau. Jika retakan tersambung, lalu ada getaran, ini bisa terdorong dan bisa roboh (longsor),” ungkap Dwikorita.

Namun, menurut Dwikorita, volume retakan tersebut lebih kecil dari longsoran yang menyebabkan tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) lalu.

“Jika ada potensi tsunami, tentu harapannya tidak seperti yang kemarin, namun kami meminta masyarakat untuk waspada saat berada di zona 500 meter sekitar pantai,” tuturnya.

Baca Juga : Jika Di Dekati Kucing Berarti ada 3 Pertanda dari Allah. Kamu Mau Tahu?

More From: Berita Menarik