Siswa Berprestasi Ini Tak Diluluskan Setelah Memprotes Kebijakan Kepala Sekolah, ‘Saya tidak lulus, karena dianggap terlalu berani melawan kebijakan kepala sekolah’


via: intisari.grid.id

Palingseru.com – Hari Senin (13/5/2019) yang bertepatan dengan hari kelulusan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) telah menjadi saksi bisu atas ketidakadilan yang didapat oleh seorang siswa kelas XII jurusan IPS SMAN 1 Sembalu, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sang siswa, yang bernama Aldi Irpan, dinyatakan tidak lulus dari sekolahnya setelah dirinya mengkritik kebijakan sekolah yang diterapkan oleh kepala sekolah yang baru menjabat selama satu tahun terakhir, melansir Intisari.Grid.id.

“Saya tidak lulus, karena dianggap terlalu berani melawan kebijakan kepala sekolah. Saya dianggap tidak menurut. Itu alasan kepala sekolah tidak meluluskan saya,” terang Aldi.

Adapun kebijakan-kebijakan dari kepala sekolah yang diprotes oleh Aldi, diantaranya penggunaan jaket di lingkungan sekolah, serta sanksi kepada siswa yang datang telat.

Hal tersebut diprotes oleh Aldi bukan tanpa alasan.

Menurutnya, siswa menggunakan jaket karena didesak oleh cuaca Sembalun yang sangat dingin karena berada di bawah kaki Gunung Rinjani. Terlebih lagi saat musim hujan tiba, maka cuaca akan semakin dingin.

Namun sayangnya hal tersebut tidak bisa ditoleransi oleh kepala sekolah. Ia bahkan sampai memukul dan melempar bak sampah pada seorang siswa bernama Holikul Amin, teman sejurusan Aldi yang kedapatan memakai jaket di lingkungan sekolah.

“Padahal ketika itu kawan saya sudah lepas jaketnya di parkiran sekolah, malah dipukul dan dilempar bak sampah. Banyak kebijakan kepala sekolah yang tidak sesuai dan tidak adil, tetapi kawan-kawan saya tidak berani mengutarakannya. Saya berani mengutarakannya demi kawan-kawan saya,” ungkap Aldi.

via: intisari.grid.id

Dan puncaknya, ketika Aldi menyampaikan kritikannya di media sosial Facebook. Ia kembali memprotes kebijakan sekolah yang dinilainya tidak adil. Dimana peraturan yang mengharuskan siswa pulang jika terlambat. Padahal penyebab keterlambatan itu karena jalanan di Sembalun sedang longsor hingga menyebabkan jalanan jadi becek dan licin. Ditambah lagi kondisi jalan rusak akibat proyek pelebaran jalan di Desa Sembalun.

Akibatnya, Aldi dipanggil ke ruang sekolah dan ditanya apa keinginannya oleh kepala sekolah. Dengan tegas, Aldi meminta peraturan sekolah diubah, tapi ia justru mendapat ancaman dari kepala sekolah untuk dipindahkan dari sekolah.

“Saya akan dibiayai jika mau pindah sekolah. Tapi saya menolak tetap tidak mau karena saya akan ujian. Kepala sekolah mengancam tidak akan meluluskan. Saya tetap menolak. Kepala sekolah akhirnya mengatakan terserah kamu, saya sudah menyerah,” kata Aldi.

Tak cukup sampai di situ. Sang kepala sekolah kembali melakukan tindakan tak biasa pada Aldi. Ia mengutus dua guru ke rumah Aldi untuk menyuruh Aldi dan orangtuanya meminta maaf padanya, jika ingin lulus.

Sesuai permintaannya, Aldi dan orangtuanya datang menghadap kepala sekolah, menyampaikan permintaan maafnya. Namun keanehan kembali terjadi.

“Kepala sekolah justru sebut permintaan maaf itu tidak diterima karena dilakukan di hari Minggu bukan jam kerja. Begitu kata kepala sekolah dan adik saya tetap dinyatakan tidak lulus karena keputusan kepala sekolah. Guru-gurunya banyak yang nangis karena tahu Aldi anak baik dan peringkat dua di jurusannya,” ungkap Rusman, kakak ipar Aldi.

Ya, di sekolahnya, Aldi merupakan anak berprestasi. Aldi bahkan tercatat sebagai peringkat dua di jurusannya dengan total nilai 192. Ia juga aktif dalam kegiatan sekolah dan menjabat sebagai ketua OSIS.

via: intisari.grid.id/SMAN 1 Sembalun

“Anak kita ini aktif di OSIS. Selalu membantu sekolah. Dia membantu mendatangkan donatur yang menyumbang 60 buah Al-Quran. Sampai sekarang sumbangan itu dipakai untuk mengaji anak-anak di sekolah ini,” kata Ruhaiman, wali kelas Aldi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi lebih lanjut mengenai masalah Aldi.

More From: Berita Menarik