Pengamat Sebut Prabowo-Sandi Juga Harus Diperiksa atas Pemilu Curang: Jangan-Jangan Mereka Sama


Pasangan Calon Capres dan Cawapres 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. - Instagram Sandiaga Uno

Pengamat Politik Ray Rangkuti menilai pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno juga harus diperiksa atas adanya potensi kecurangan dalam Pilpres 2019.

Diberitakan TribunWow.com dari Kompas.com, hal tersebut disampaikan Ray dalam diskusi berjudul “Bedah Sidang Perdana MK: Menakar Peluang Prabowo” yang berlangsung di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Minggu (16/6/2019).

Dalam pemaparannya Ray menjelaskan, hal tersebut harus dilakukan bila nanti Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan untuk menerima tuntutan pemohon, yang dalam hal ini adalah Prabowo-Sandiaga terkait perkara kecurangan pemilu yang terstruktur, sistematis dan masif (TSM).

Ray menegaskan, Prabowo-Sandi harus diperiksa apakah benar mereka berlaku jujur dan adil selama pilpres ini.

“Kalau tuduhan TSM diperiksa MK, pemohon juga harus diperiksa apakah mereka juga berlaku jurdil,” ujar Ray.

Ray memaparkan, pembuktian ini menjadi penting agar tuntutan Prabowo-Sandiaga untuk terciptanya pemilu yang jujur dan adil bisa terwujud.

Selain itu, Ray menilai, hasil suara yang diperoleh pasangan Prabowo-Sandiaga dalam pilpres 2019 ini sebenarnya tidak murni karena kampanye program mereka saja.

Menurut Ray, perolehan suara untuk Prabowo-Sandiaga juga merupakan pengaruh dari mencuatnya politik identitas dan politisasi isu SARA.

Ray menilai, bukan hal yang tidak mungkin suara Prabowo-Sandi akan berkurang jika isu-isu tersebut tak digunakan.

“Jangan-jangan pemohon juga menggunakan cara yang sama untuk meraih suaranya. Kalau tidak pakai isu itu, jangan-jangan hasil suaranya di bawah itu sebetulnya,” ujar Ray.

Selain Ray, pakar hukum tata negara, Bivitri Susanti juga turut memberikan tanggapan atas tudingan kecurangan TSM dari kubu Prabowo-Sandi.

Atas tudingan tersebut, menurutnya tim hukum Prabowo-Sandi harus dapat membuktikan adanya pelanggaran tersebut.

“Tim hukum Prabowo-Sandiaga harus membuktikan bahwa TSM itu benar adanya dan mampu membalikkan perolehan suara hasil pemilu presiden,” kata Bivitri, Jumat (15/6/2019), seperti dikutip dari Kompas.com.

Bivitri menilai, hal ini merupakan hal yang sulit untuk dilakukan.

Pasalnya, kubu 02 harus membuktikan kecurangan sekitar 8,5 juta suara jika memang ingin memenangkan sengketa ini.

“Ini susah atau berat banget karena tim 02 membutuhkan sekitar 8,5 juta suara kalau ingin menang,” papar dia.

Sebagai contoh, untuk membuktikan adanya kecurangan yang terstruktur, kubu 02 harus memiliki bukti adanya menteri yang memerintahkan bawahannya untuk memilih Jokowi-Ma’ruf.

“Untuk masifnya, tim 02 tidak bisa hanya membuktikan bahwa 100-200 orang saja yang diperintah memilih Jokowi-Ma’ruf, tapi harus lebih banyak dan signifikan untuk membalikkan suara hasil pilpres 2019,” paparnya kemudian.

 

Sumber: tribunWow

More From: News