Mantri ini Wafat Saat Menjalankan Tugas di Pedalaman Papua, Tetap Mengabdi Walau Ditinggal Rekan Kerja dan Helikopter Pemda Tak Kunjung Tiba


via: hot.grid.id

Palingseru.com – Sebuah kisah pilu dan tragis mewarnai kematian seorang petugas medis atau yang lebih kita kenal dengan sebutan mantri.

Ialah Patra Marinna Jauhari, mantri yang meregang nyawa seorang diri saat ditugaskan di daerah pedalaman Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.

Daerah pedalaman itu sendiri, seperti dilansir Grid.Hot.id, merupakan salah satu kampung di pedalaman distrik Naikere yang masih terpencil dan terisolir. Tidak ada akses jalan darat apalagi sarana telekomunikasi. Bahkan dibutuhkan waktu selama tiga sampai empat hari, untuk bisa mencapai perkampungan ini, dengan berjalan kaki.

Meski dengan segala kondisi itu, Mantri Patra tidak merasa keberatan ataupun menolak saat dirinya ditugaskan di perkampungan tersebut.

Pada Februari 2019, ia akhirnya dikirim ke Teluk Wondama bersama satu petugas medis lainnya, dengan menggunakan helikopter. Saat itu, ia dijanjikan akan dijemput kembali setelah tiga bulan bertugas, melayani masyarakat.

Namun apa daya, hingga bulan Juni, Mantri Patra tak kunjung dijemput. Hal ini menyebabkan ia kehabisan pasokan makanan yang dibawa sewaktu keberangkatan. Kondisinya pun semakin memilukan setelah ditinggal pergi rekan kerjanya, yang memutuskan pergi dari kampung tersebut karena sudah tidak betah.

Sementara Mantri Patra memilih tetap berjuang, mendedikasikan dirinya untuk masyarakat setempat meski sudah kehabisan makanan maupun obat-obatan.

via: hot.grid.id/Mantri Patra

Untuk mengisi hari, bujangan kelahiran 1988 ini pun berinteraksi dengan warga setempat, dari berkunjung ke rumah warga, bermain bersama pemuda setempat hingga ikut berkebun bersama warga.

“Tiap sore dia pergi dengan anak-anak menyanyi-nyanyi,” kata seorang warga yang dikisahkan Kepala Puskesmas Naikere, Tomas Waropen.

Dan seiring berjalannya waktu, kondisi kesehatan Mantri Patra mulai memburuk. Dia jatuh sakit, dan seorang warga kampung memutuskan berjalan kaki untuk memberitahukan kondisi sang mantra kepada kepala Puskesmas Naikere.

Mirisnya, instansi tempatnya bekerja tidak merespon. Sampai akhirnya, Mantri Patra yang sudah tidak bisa bertahan menghembuskan nafas terakhirnya pada 18 Juni 2019.

Jenazah Mantri Patra baru dievakuasi empat hari setelahnya, menggunakan helikopter yang disewa Pemda dari Nabire.

via: hot.grid.id/Mantri Patra saat terbaring sakit

Kematian Patra atau pahlawan kemanusiaan ini sontak menyisakan duka dan keprihatinan yang mendalam. Tak terkecuali bagi Waropen. Dia bahkan mengandaikan, jika saja pertolongan cepat datang, kemungkinan besar nyawa Patra dapat tertolong.

“Kami sudah rapat sampai tiga kali dengan Dinas Kesehatan, Kesra dan Pak Sekda tapi tetap tidak ada jalan. Sampai akhirnya dia sudah meninggal baru helikopter bisa naik,” kata Waropen.

Di mata Waropen, Patra adalah pahlawan sesungguhnya, yang bersungguh-sungguh mendedikasikan dirinya kepada masyarakat tanpa banyak mengeluh dan menuntut.

“Patra adalah pahlawan bagi masyarakat di pedalaman Mairasi (nama suku di pedalaman Naikere). Sementara kita anak-anak negeri ini banyak yang jadi Judas (murid yang mengkhianati Yesus),” tukas Waropen.

More From: Berita Menarik