Tukang Becak ini Bahagia Plus Bangga Lihat Anaknya Berhasil Raih Gelar Doktor


via: kompas.com

Palingseru.com – Saningrat (43), seorang tukang becak asal Pamekasan yang menambah daftar panjang dalam daftar orangtua tidak mampu namun berhasil menghantar anaknya pada masa depan cemerlang.

Ya, dengan profesinya yang hanya sebagai tukang becak dan buruh tani, Saningrat dan istrinya Rusmiati (40) berhasil mengantar putri sulungnya Lailatul Qomariyah (27) menempuh pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya hingga lulus doktor.

Lailatul berhasil menyelesaikan kuliah kedokterannya hingga S3, dan bahkan lulus dengan IPK 4.0. Dan pada hari Minggu, 15 September 2019 mendatang, Lailatul pun akan diwisuda setelah menjalani sidang yang diuji oleh tujuh profesor pada 4 September 2019 lalu, melansir Kompas.com.

Meski berasal dari keluarga kurang mampu, diakui Lailatul, hal tersebut tidak menyurutkan niat dan tekadnya untuk menggapai cita-citanya.

“Saya anak orang miskin, tapi saya tidak minder. Yang saya butuhkan adalah semangat orangtua, doa orangtua, dan kesabaran orangtua. Hasilnya saya petik saat ini dan untuk masa depan saya,” ucap wanita yang terus mendapat ranking 1 sejak SD.

Dengan tekadnya yang bulat itulah, Lailatul nekat berangkat ke Surabaya dan kuliah di sana seorang diri, tanpa didampingi orangtua. Lailatul hidup berjuang sendiri tanpa mempersulitkan kedua orangtuanya. Bahkan, di posisinya yang masih kuliah, Lailatul masih sempat mengirimkan uang ke orangtuanya dari penghasilannya mengajar les privat yang mendapat honor Rp 800.000 dari setiap anak.

“Seingat saya, saya hanya mengeluarkan biaya Rp 10 juta untuk beli motor dan Rp 6 juta untuk beli laptop Lailatul. Selain itu, saya lebih sering dikirimi uang oleh Laila untuk modal bertani,” tutur Saningrat.

Sebagai seorang ayah, Saningrat jelas merasa bangga pada putri sulungnya tersebut. Dia juga tidak menyangka jika putrinya berhasil menyelesaikan pendidikan sampai S3, terlepas dari berbagai cibiran yang datang.

Ya, saat sang anak hendak kuliah di Surabaya, Saningrat banyak mendapat cibiran dari para tetangga, yang seolah meremehkan dirinya tidak akan mampu membiayai pendidikan sang anak.

“Cibiran tetangga ke saya begini, ‘Jadi tukang becak mau menyekolahkan anaknya ke Surabaya, dapat uang dari mana, apalagi tanahnya hanya sepetak yang ditempati sebagai rumahnya,” kenang Saningrat.

Tapi tak diambil pusing, cibiran itu justru dijadikan motivasi oleh Saningrat. Begitu pula dengan Lailatul. Dan kini mereka pun berhasil membuktikan, bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin terjadi jika terus berusaha.

More From: Berita Menarik