Nyawa Bayi Terancam Akibat Kabut Asap, Orangtua yang Khawatir Pilih Mengungsi


kabut asap
kabut asap foto:tribunnews.com

Palingseru.com – Tebal dan pekatnya kabut asap kini membuat sejumlah penduduk di Provinsi Riau mengalami gangguan kesehatan. Dan ironisya, dari sekian banyak yang mengalami gangguan kesehatan, ada kalangan bayi diantaranya.

Bayi-bayi yang masih belum kuat imunitas tubuhnya terserang berbagai penyakit, mulai dari batuk, flu, sesak napas, hingga muntah karena terpapar dan menghirup kabut asap, yang mulai masuk ke dalam rumah mereka.

Hal inilah yang membuat beberapa orangtua memutuskan untuk mengungsi ke posko pengungsian yang ada di Kantor DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Jalan Soekarno Hatta, Pekanbaru, Riau, melansir TribunKaltim.com.

Dania (27), salah satu diantara orangtua yang membawa bayinya tinggal di posko pengungsian.

“Kami sekeluarga mengungsi, karena semuanya sakit karena semuanya sakit karena dampak asap. Anak-anak, suami dan ibu saya di sini ngungsi,” kata Dania.

“Kemarin itu bayi saya usia 23 hari alami batuk, sesak napas, flu dan hidung tersumbat, lalu dirujuk ke rumah sakit. Tapi masih rawat jalan, jadi kembali lagi ke posko. Karena di sini lebih nyaman dan udara segar. Dan, kondisi bayi saya juga udah sedikit membaik,” terang warga Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Tampar tersebut.

Warga lainnya, Nora (31), juga terpaksa membawa bayinya yang baru berusia 14 hari untuk tinggal di posko pengungsian karena kondisi kesehatan sang bayi memburuk dan kabut asap semakin masuk ke dalam rumah.

“Saya bawa bayi mengungsi, karena sakit akibat kena dampak asap. Di sini kami mengungsi satu keluarga,” ucapnya.

Saat ditanya kapan akan kembali rumah, Nora menjawab, “Belum tahu kapan. Karena asap sudah masuk ke rumah.”

Pernyataan senada pun juga datang dari seorang ibu bernama Mimi (35). Warga Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru ini memiliki bayi yang alami gangguan kesehatan akibat kabut asap.

“Yang kecil (berusia 2 bulan) batuk dan sesak napas. Kalau kakanya udah kayak gak tahan sakit kepalanya. Setelah dibawa ke posko, udah mulai mendingan. Di sini kami sekeluarga mengungsi,” kata Mimi.

Dan itu hanya baru beberapa potret kelam para korban kabut asap. Jika diekspos semuanya, air mata kita pun mungkin akan mengalir, tak bisa membayangkan bagaimana pedihnya penderitaan saudara kita yang tinggal di wilayah terkena dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla.

Terlebih di sini, bukan hanya orang dewasa, anak kecil dan anak bayi juga ikut menjadi korbannya, hingga ada yang berakhir meninggal dunia.

More From: Berita Menarik