Pelajar SD di Gabongan ini Selama Bertahun Tahun Ketakutan Saat Belajar, Kelas Mereka Hanya Disanggah Tiang Bambu Yang Rawan Roboh


via: kompas.com

Palingseru.com – Pendidikan bagi anak bangsa memang mendapat perhatian khusus bagi pemerintah Indonesia, hingga sampai meluncurkan program wajib belajar 12 tahun dari yang semulanya 9 tahun, secara resmi di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Namun nyatanya, langkah pemerintah untuk memberikan pemerataan dan perluasan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi setiap anak bangsa ini bisa dikatakan belum sepenuhnya terjalin.

Bagaimana tidak, nyatanya masih banyak ditemukan anak-anak putus sekolah karena alasan faktor ekonomi. Selain itu, juga sekolah-sekolah yang tidak mendapat fasilitas layak.

Ya, hingga saat ini, masih banyak sekolah-sekolah khususnya di desa terpelosok dibangun dengan seadanya. Bahkan ada sejumlah diantaranya yang nyaris roboh, seperti diantaranya Sekolah Dasar Negeri (SDN) 4 Sulursari, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Sekolah ini memiliki bangunan yang sudah keropos dan rapuh. Tiga ruangan belajar mengajar yakni kelas 4, 5 dan 6 bahkan nyaris roboh.

Namun pihak sekolah tetap menggunakan ruang tersebut untuk aktivitas belajar mengajar, dengan memberikan sanggahan berupa sejumlah tiang bambu.

Tapi tetap saja hal ini membahayakan dan dapat mengancam keselamatan jiwa para pelajar dan guru sewaktu-waktu.

Muh Syarof, siswa kelas 6 SDN 4 Sulursari bahkan mengaku selalu merasa was-was ketika berada di dalam kelas.

“Kami tak bisa konsenstrasi belajar sejak kelas 4 hingga kelas 6 ini. Yang kami khawatirkan jika sewaktu-waktu saat belajar bangunan ambruk. Sering kali kami menengok ke atas. Kami memohon pemerintah bisa memperbaiki sekolah kami,” tuturnya, dilansir dari Kompas.com.

Di samping itu, Kepala SDN 4 Sulursari, Sunaryo, mengaku sudah berupaya mengajukan proposal bantuan untuk perbaikan ketiga ruang kelas tersebut kepada pemerintah.

Namun hingga saat ini, belum ada satu pun tanggapan dari pemerintah.

“Kami berharap sekolah bisa diperbaiki. Sudah kami ajukan proposal tapi tak direspons,” ungkapnya.

“Kasihan para pelajar dan guru yang takut sewaktu-waktu bangunan ambruk. Kami hanya bisa mengakali dengan tiang bambu,” pungkas Sunaryo.

More From: Berita Menarik