Setelah 53 Kali Gagal Mendapat Beasiswa, Anak Tukang Sayur di Aceh ini Akhirnya Sukses Kuliah S2 di Amerika Serikat


via: tribunnews.com

Palingseru.com – Inilah kisah inspiratif dari seorang pemuda asal Aceh bernama Aula Andika Fikrullah Al Balad, yang semakin membuktikan bahwa ‘usaha tidak pernah mengkhianati hasil’.

Ya, Tuhan memang berlaku adil bagi hambanya yang mau dan bersungguh-sungguh dalam meraih impiannya. Sekali pun, situasi dan kondisi sekitarnya tidak memungkinkan, seperti apa yang tergambar dalam kisah perjalanan Aula untuk kuliah S2 di Lehigh University, salah satu universitas ternama di Amerika Serikat.

Seperti dilansir TribunnewsBogor.com, Aula berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Ibunya, Siti Narimah atau yang akrab dipanggil Mak Cut berdagang sayur di depan rumah, di Gamping Lampasi, Darul Imarah, Aceh Besar. Sedangkan ayahnya Ridhwan Kr Is telah lama meninggal, tepatnya ketika Aula duduk di kelas lima SD.

Meski hidup serba kekurangan dengan sang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga dan harus menghidupi lima anak, tekad Aula untuk mewujudkan kuliah di luar negeri berhasil tersampaikan.

via: tribunnews.com

“Ya, jualan sayur mana banyak uang sih, palingan 20 ribu atau 10 ribu (rupiah) per hari untung,” ucapnya.

Namun bukan hal yang mudah bagi Aula untuk sampai bisa kuliah di AS. Aula yang merupakan lulusan Universitas Syiah Kuala ini harus merasakan kenyataan pahit atas kegagalan mendapat beasiswa. Bukan sekali dua kali, tapi sebanyak 53 kali ia ditolak.

“Saya dari dulu tuh pengin banget (kuliah) ke luar negeri,” tuturnya.

“Tapi sudah (bulat), ‘Aula, ke luar negeri, naik pesawat, tapi enggak boleh dibayar sama diri sendiri,” kenang dia.

Belum lagi nyinyiran orang-orang terdekatnya, yang memandangnya dengan sebelah mata karena ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan.

“Ada omongan kemarin ‘lu jangan harap deh bisa masuk kuliah deh, Aula. Kalau lu nggak bisa sogok orang dan lu nggak punya orang dalam’. Seakan-akan dia mau ngomong bahwa, ‘oh, anak miskin itu nggak bisa sekolah. Anak miskin itu nggak bisa kuliah,” kenangnya.

Aula berhasil mendapat beasiswa USAID prestasi untuk program S2 di Amerika setelah mendapat informasi dari rekannya.

Bercermin dari kegagalannya, Aula pun sempat putus asa dan tidak percaya diri untuk mendaftar beasiswa. Namun sang ibu yang berada di belakangnya begitu kuat mendorong semangatnya.

“Coba sekali lagi,” ujarnya saat mengenang pesan ibunya.

Dan siapa menyangka, Aula berhasil terpilih menjadi satu diantara 23 orang Indonesia yang mendapat beasiswa USAID prestasi untuk kuliah ke Amerika.

Di Lehigh University, Aula memilih jurusan Instructional Technology, karena ingin membangun teknologi di dunia pendidikan di tanah air.

via: tribunnews.com

“Pemakaian teknologi dalam pembelajaran di Indonesia tuh belum terlalu ekstrim sebagaimana yang telah digunakan oleh negara-negara maju seperti Amerika, China, Korea, India dan lain sebagainya,” ungkapnya.

“Insya allah saya percaya dengan belajar di sini dengan involve di berbagai research activies yang ada di Lehigh dan di luar akan memperkaya dan menjadikan Indonesia lebih baik dan bermanfaat insya allah pastinya untuk kita semua nanti itu,” tuturnya.

Peran sang ibu yang turut ambil andil besar dalam kesuksesan Aula ini pun diapresiasi oleh pemerintah.

Pada November 2019, sang ibu diberikan penghargaan ‘Orang Tua Hebat 2019’ oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat.

Penghargaan itu didapat Mak Cut usai didaftarkan putranya, Aula. Aula sendiri memiliki alasan khusus mendaftarkan sang ibu untuk menerima penghargaan tersebut.

via: tribunnews.com

“Ketiadaan orang tua yang lengkap, kemudian orang tua yang tidak berpendidikan, ekonomi yang tidak mendukung itu tidak menghalangi kita untuk mencapai apa yang kita mau. Tidak menghalangi anak-anaknya untuk bisa berpendidikan dan melanjutkan pendidikan sampai dengan level yang tertinggi dan di luar negeri dan di negara yang paling adidaya di dunia gitu,” jelas Aula.

Di akhir, Aula pun kembali mengingatkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk mewujudkan cita-cita.

“It’s not about perfect. It’s all about effort. Tak perlu harus melulu sempurna, namun segala cita-cita bisa diraih dengan berusaha,” tutupnya.

More From: Berita Menarik