Dijemput Paksa Polisi, Rangga Tetap Ngotot Negara-Negara di Dunia Bakal Datang Ke Bandung Untuk Daftar Ulang ke Sunda Empire


via: tribunnews.com

Palingseru.com – Petinggi Kerajaan Sunda Empire, Raden Rangga Sasana (53), yang sempat mengklaim dapat mempersatukan dunia dan kendalikan nuklir melalui sebuah video di YouTube, akhirnya dibekuk polisi pada Selasa (28/1/2020) malam.

Pria yang memiliki jabatan sebagai Sekretaris Jenderal De Herent XVII Sunda Empire itu dijemput paksa jajaran Polda Jawa Barat terkait kasus penyebaran kabar bohong.

Menariknya, meski hendak berhadapan dengan jeratan hukum, menyusuli dua petinggi Sunda Empire sebelumnya yakni Ibunda Kaisar R Ratna Ningrum (66) dan Nasri Banks (66) sebagai Prime Minister Sunda Empire, Rangga tetap percaya diri dan bersikap tenang.

Dirinya bahkan dengan percaya diri menyapa para wartawan dan mempersilakan jika ingin bertanya kepadanya.

“Selamat pagi, selamat malam. Ngomong saja enggak apa-apa,” ujarnya yang masih mengenakan pakaian seragam petinggi Sunda Empire dan baret berwarna biru muda.

Di saat bersamaan, Rangga juga kembali menegaskan bahwa negara-negara di dunia akan datang ke Bandung untuk mendaftar ulang pada Agustus 2020 mendatang.

“Saya dalam hal ini mewakili kekaisaran di mana saya sebagai Sekjen Sekretaris Jenderal De Hereen Seventeen. Perlu dunia juga tahu semuanya bahwa di sinilah tata letak bahwa NKRI ini ingin lebih maju. Kita akan sokong posisi De Hereen Seventeen.”

“Lalu kemudian pada waktu nanti 15 Agustus 2020, kesemuanya internasional akan datang ke sini, itu benar adanya. Jadi untuk ini kejelasan bahwa simpang siurnya sejarah, kita bisa maklumi, oleh masyarakat semuanya juga,” demikian ucapnya, dilansir dari newsokezone.com.

Tidak cukup sampai di situ, Rangga juga mengatakan ada pengacara yang mendampinginya nanti, yang didatangkan dari Sekolah Tinggi Islam.

Rangga, bersama dua petinggi Sunda Empire, R Ratna Ningrum dan Nasri Banks akan dikenakan Pasal 14 dan 15 UU RI Nomor 1 tahun 1946 tentang Penyebaran Berita Bogong dan Menyiarkan Kabar yang Tidak Pasti, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

More From: Berita Menarik