Viral Keluarga Jenazah Mengaku Disogok Agar Akui Covid-19, Begini Penjelasan Rumah Sakit


via: health.grid.id

Palingseru.com – Khalayak media sosial kini tengah dihebohkan dengan sebuah video viral keluarga jenazah di Singkil, Kota Manado, Sulawesi Utara, disogok pihak rumah sakit agar mengakui keluarganya pasien positif Covid-19.

Video tersebut cukup panjang, berdurasi 10 menit 42 detik.

Dalam video itu, anak almarhum menerangkan, pada saat selesai memandikan jenazah ayahnya, pihak RS memberikan sejumlah uang kepadanya beserta Pak Imam.

“Mereka (dokter) ada beri uang. Setelah ayah saya dimandikan, dari RS akan masukkan ke peti tapi kami keluarga menolak. Dokter kasih uang tapi kami tolak,” ucapnya dalam video.

Lebih lanjut, si perekam mengatakan bahwa pihak rumah sakit menyogok keluarga untuk meminta diviralkan.

Menyusul viralnya video tersebut, Direktur Utama (Dirut) RS Pancaran Kasih, dr Frangky Kambey langsung angkat bicara.

Dia menegaskan, apa yang ditudingkan keluarga pasien tersebut tidaklah benar.

Menurutnya, ada kesalahpahaman dalam hal ini.

Lebih lanjut, dr Frangky menjelaskan, kebetulan yang terjadi adalah yang memandikan, mengkafankan dan mensalatkan hanya satu orang, biasanya tiga. Sehingga petugas RS melaporkan, ada dua intensif yang tertinggal. Sehingga dia menginstruksikan, memberikan pada siapa saja yang ada di lokasi, dan secara kebetulan ada keluarga pasien.

“Di kami ada kebijakan, karena ini bukan yang pertama, biasanya kami memberikan intensif kepada yang memandikan, mengkafani, dan mensalatkan jenazah. Mengingat mereka menanggung risiko yang besar, dalam hal ini tertular, maka harus menggunakan APD level 3. Biasanya kami berikan intensif sebesar Rp 500 ribu per orang,” ungkapnya.

“Menurut petugas, keluarga tidak menerima. Jadi sebenarnya ada kesalahpahaman. Kalaupun kami salah, kami minta maaf. Tapi dari lubuk hati yang terdalam, kami hanya menjalankan kebijakan. Misalnya pun kalau diterima, anggaplah itu sebagai ungkapan belasungkawa kami, bukan seperti yang diisukan bahwa kami menyogok untuk mengatakan pasien ini positif Covid-19,” tambah dr Frengky.

Di samping itu, pasien yang masuk rumah sakit sejak 26 Mei lalu itu sudah masuk kategori Pasien dalam Pengawasan (PDP) lantaran didiagnosa Pneumonia dan kehilangan kesadaran.

Sehingga, penanganan jenazah harus dilakukan sesuai protokol.

“Semua pasien yang meninggal, baik statusnya ODP, PDP, dan positif harus dinotifikasi ke Gugus Tugas Manado. Jadi kami sudah melakukan tugas dan kewajiban kami, yakni menangani dan melaksanakan apa yang menjadi protokol. Prinsip kami adalah menjalankan tugas, dan menunaikan misi kemanusiaan tenaga kesehatan. Kalaupun ada kesalahan, mungkin miskomunikasi antara dua belah pihak, kami mohon maaf,” tegas dr Frengky. Demikian mengutip bukamatanews.id.

More From: Berita Menarik