Kisah Mbah Tarso dan Istri Tinggal di Gubuk Karung di Purwokerto


Mbah Tarso (70) bersama sang istri Sugiani (31) hidup di gubuk karung di Banyumas, Rabu (8/7/2020). (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)

Di sudut Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tepatnya di Kelurahan Kedungwuluh, Kecamatan Purwokerto Barat RT 7 RW 6, Mbah Tarso (70) terpaksa hidup serba dalam keterbatasan bersama sang istri Sugiani (45). Untuk makan sehari-hari, biasanya mereka hanya mengandalkan alat pancing guna memancing belut di Sungai Banjaran yang tepat berada di samping gubuk mereka.

Dengan gubuk sebagai tempat tinggal mereka yang berukuran 2×3 meter dan tinggi 1 meter yang terbuat dari karung serta plastik beralaskan spanduk bekas, mereka hidup jauh dari permukiman penduduk. Kayu bakar menjadi andalan mereka untuk memasak, sedangkan untuk mandi menjadi satu di gubuknya tersebut.

Untuk mencapai gubuk mereka, setidaknya harus dilakukan dengan berjalan kaki melewati sawah-sawah dan kebun milik warga. Mereka pun tinggal di tanah pribadi milik warga tanpa penerangan listrik dan perabotan rumah tangga selama 5 tahun.

“Lima tahun tinggal di sini, Kedungwuluh, asli Kranji (Purwokerto Timur). Aktivitas mancing pelus (belut besar) untuk dijual, tidak pasti kadang dapat,” kata Tarso kepada wartawan di gubuknya, Rabu (8/7/2020).

Dia mengatakan karena tidak mempunyai pekerjaan, dirinya hanya mengisi aktivitasnya dengan mencari belut atau ikan lele untuk makan sehari-hari. Belut tersebut kemudian dijual kepada orang orang meskipun tidak mesti dapat setiap harinya.

“Kalau dapat banyak dibagi-bagi. Sebulan paling satu dua, paling banyak 3 belut. Kadang juga mancing lele dapat 5 kilogram dijual 1 kilogram Rp 15 ribu, ya cukup untuk makan satu Minggu. Cari lagi belum satu Minggu sudah dapat lagi buat nyambung. Lebih sedikit sedikit saya tabung,” jelasnya.

Selain mencari belut dan lele, dia juga mengaku pernah menjadi pemburu ular kobra, setidaknya 80 ular pernah dia jual ke daerah Cilacap. Uang dari penghasilannya tersebut kemudian dia tabung untuk kebutuhan harian dan kebutuhan lain.

Jika malam tiba, hawa dingin diakuinya sangat terasa. Bahkan jika hujan turun gubuknya itu selalu kebanjiran, sedangkan untuk penerangan saja dirinya hanya menggunakan sebatang lilin untuk satu malam.

“Ya tidak ada penerangan, pakai lilin saja satu batang untuk satu malam. Kalau malam ya dingin,” jelasnya.

Mbah Tarso (70) bersama sang istri Sugiani (31) hidup di gubuk karung di Banyumas, Rabu (8/7/2020).
Mbah Tarso (70) bersama sang istri Sugiani (31) hidup di gubuk karung di Banyumas, Rabu (8/7/2020). Foto: Arbi Anugrah/detikcom

Mbah Tarso bercerita, awal mula dia diizinkan untuk menempati tanah milik warga Ledug, Kecamatan Kembaran, Banyumas selama lima tahun ini usai dirinya membersihkan sungai dan rumput-rumput pemilik tanah. Karena tidak mau dibayar, dan kebingungan tidak memiliki tempat tinggal, akhirnya Mbah Tarso diizinkan untuk menempati tanah tersebut dengan syarat tidak dibangun permanen.

“Dulu punya rumah sendiri, sekarang tidak punya karena dibagi bagi (warisan) akhirnya habis. Lalu cari kontrakan kontrakan, pindah 3 kali, akhirnya bingung cari lokasi. Karena diberi izin sama yang punya tanah saat awal bersihin kali. Lalu yang punya tanah tahu dan diizinkan tinggal selamanya, selama belum dijual atau dibangun,” ujarnya.

Mbah Tarso bersama Sugiani belum dikaruniai anak. Saudaranya pun tinggal jauh dari mereka. Selama tinggal berdua di gubuk tersebut, dirinya mengaku belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Meskipun ber-KTP kelurahan Kedungwuluh, namun saat pendataan oleh RT setempat dirinya sempat dianggap salah sasaran.

“Waktu BLT pernah sekali (didatangi petugas), katanya salah sasaran, raskin atau BLT belum pernah dapat. Alamat KTP Kedungwuluh Selatan dan di sini Kedungwuluh Utara. Pernah dapat sekali saja saat di rumah dulu di Kranji,”

Sementara menurut salah satu warga sekitar, Joko Hari Nugroho (45) yang pertama kali menemukan pasangan suami istri tersebut mengatakan jika pertemuannya pertama kali karena ketidaksengajaan, meskipun dirinya sering melihat Mbah Tarso melintas. Dirinya yang tengah jalan-jalan bersama anaknya menemukan gubuk pasangan suami istri tersebut di tengah kebun dan jauh dari permukiman penduduk.

“Tahu bahwa orang itu sering lewat. Tapi tidak tahu kalau kondisinya seperti ini. Karena lokasinya ini sekitar 300 meter (dari lingkungan penduduk), tapi melewati sawah dan lewati perkebunan. Jadi untuk aktivitas sehari-hari itu tidak banyak masyarakat yang tahu. Karena ini memang lokasinya jauh dan hanya bisa diakses dengan jalan kaki. Awalnya memang karena secara tidak kesengajaan,” ujar Joko yang juga merupakan Bhabinkamtibmas Polsek Patikraja.

Dia menjelaskan, karena lokasi tempat tinggalnya jauh dari permukiman, tidak banyak warga yang tahu, membuat pihak RT setempat juga tidak mengetahui kehadiran pasangan tersebut. Sehingga tidak pernah terdata dan mendapatkan bantuan.

“Secara kewilayahannya saya sendiri tidak tahu, kalau ini ikut RT 7/6. Karena yang biasanya terkoordinir (bantuan) hanya wilayah permukiman, karena ini jauh, dan secara bahasanya itu bapak ini tidak kulanuwun (permisi) sama RT-nya. Jadi warga RT tidak ada yang tahu,” ucapnya.

Dia mengaku sudah berkoordinasi untuk membantu Mbah Tarso dengan menggandeng komunitas sosial. Karena lahan milik orang lain, rencananya Mbah Tarso akan dibuatkan rumah semi permanen.

“Saya punya inisiatif komunikasi dengan komunitas, kalau saya mengajukan secara kedinasan terkendala di lahan (bukan milik Mbah Tarso). Karena lahan milik orang lain, saya komunikasi juga dengan pemilik tanah diizinkan. Syarat pemilik tanah silakan sekalian menjaga tanahnya dan membersihkan kebunnya,” jelasnya.

Ketua Forum Lintas Komunitas Kabupaten Banyumas, Muvik mengatakan jika pihaknya bersama komunitas-komunitas sosial sepakat patungan untuk membantu Mbah Tarso.

“Karena kita melihat kondisi seperti ini, akhirnya kita dari komunitas-komunitas sosial sepakat patungan bagaimana caranya. Tidak ada yang disalahkan, tidak saling mengalahkan ini masalah kita bersama. Penggalangan dana diungkap apa adanya, kita up lewat media sosial,” ujarnya.

Dia mengaku hingga saat ini penggalangan dana untuk membantu Mbah Tarso sudah mencapai Rp 8,6 juta.

“Penggalangan dana sudah Rp 8,6 juta amanahnya untuk pembuatan rumah,” jelasnya. [Detik]

More From: Berita Menarik