Tak Punya Smartphone Untuk Belajar di Rumah, Dimas Harus Sekolah Sendirian di Dalam Kelas


via: newsdetik.com

Palingseru.com – Kondisi yang tak memungkinkan untuk belajar secara tatap muka, mengingat pandemi Covid-19 belum berlalu, membuat proses pembelajaran dialihkan secara daring atau online.

Namun lagi-lagi ditekankan bahwa proses pembelajaran ini tak serta merta menjadi jalan alternatif. Pasalnya, banyak pelajar yang tak memiliki akses memadai, karena terkendala ekonomi.

Ya, mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan tidak mampu mengikuti kelas online karena tak memiliki handphone serta kuota internet. Jangankan untuk menyediakan fasilitas di atas, untuk makan bahkan ada beberapa diantaranya yang masih kesusahan.

Nasib memilukan ini pula yang dialami oleh Dimas Ibnu Alias, pelajar SMPN 1 Rembang, Jawa Tengah.

Dimas yang dilahirkan dari keluarga kurang mampu, ayah yang menjadi seorang pelayan dan ibu yang merupakan buruh pengering ikan, membuat Dimas tak bisa mengikuti kelas online di rumah seperti teman-temannya.

Beruntungnya, pihak sekolah membuat kebijakan khusus bagi siswa yang tak memiliki ponsel untuk belajar, sehingga Dimas tetap bisa belajar dengan metode tatap muka seorang diri di sekolah.

Selama proses pembelajaran, Dimas dan sang guru menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, dengan menjaga jarak serta menggunakan masker dan face shield.

Sementara itu, pemerhati pendidikan dari lembaga swadaya masyarakat Komisi Nasional Pendidikan (Komnas Pendidikan) Andreas Tambah menuturkan seharusnya ini menjadi perhatian khusus pemerintah.

Terlebih mengingat adanya kebijakan dari Menteri Pendidikan Nadiem Makariem yang diteken Nadiem pada 9 April 2020, ada Pasal 9A huruf a yang mengatur bahwa sekolah dapat menggunakan dana BOS reguler untuk membeli pulsa, paket data, dan layanan pendidikan daring berbayar bagi pendidik dan peserta didik.

“Dalam kasus Dimas ini, pemerintah daerah setempat harus mengambil kebijakan tentang relaksasi penggunaan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan dana BOP (Bantuan Operasional Pendidikan),” kata Andreas.

Di samping itu, Andreas juga menilai sikap sekolah, yang tak langsung mengambil keputusan terkait masalah ini. Menurutnya, di masa pandemi ini, biaya-biaya tidak perlu dialihkan untuk membantu siswa yang tak mampu secara ekonomi, seperti Dimas.

“Kalau hanya satu orang (Dimas), kenapa sekolah tidak membiayai untuk membeli smartphone? Toh smartphone Rp 1 juta juga sudah bagus. Ini supaya Dimas bisa seperti yang lain. Mau tidak mau, zaman sudah berubah, konsep pembelajaran juga berubah karena situasi tidak memungkinkan untuk tatap muka,” tuturnya, melansir newsdetik.com.

More From: Berita Menarik