4 Pelajar di Bandar Lampung ini Sampai Masuk Sarang Ular Demi Bisa Belajar Online


via: tribunnews.com

Palingseru.com – Sarang ular, membayangkannya saja sudah membuat kita bergidik ngeri, apalagi sampai harus mengunjungi lokasi tersebut. Namun mau tak mau, hal menegangkan dan menakutkan ini harus dilalui oleh empat pelajar di Bandar Lampung.

Dilansir Tribunnews.com, setiap hari, Faiz (12), Rezi (12), Ali (15) dan Firnando (15) harus memasuki kebun pisang di belakang rumah mereka, di Jalan Nangka, Gang Stiap, Kelurahan Sepang Jaya, Kecamatan Kedatonyang, yang terkenal sebagai ‘sarang ular’ demi bisa mendapatkan akses internet melalui WiFi tetangga untuk mengikuti kelas online, yang diterapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di tahun ajaran baru 2020/2021.

Tindakan berbahaya keempat remaja itu tak lain karena orangtua mereka tak mampu membelikan kuota internet, lantaran penghasilan yang tak besar.

Adapun dibelikan kuota, diakui Ali, hanya sebanyak 1 GB per minggunya. Sedangkan kebutuhan untuk mengikuti pelajaran, satu hari bisa memakan kuota internet sampai 1 GB lebih.

“Kalau cuma mengirim tugas, paling habis 500 MB, tapi kalau ikut Zoom bisa 1GB lebih,” tuturnya.

Ayah Ali sendiri bekerja sebagai kuli bangunan, dan sebelumnya sempat putus bekerja karena pandemi Covid-19.

Karena itu, Ali tak ingin membebani orangtuanya dan memutuskan mengajak ketiga temannya untuk memanfaatkan akses internet WiFi tetangga yang sebelumnya sudah dimintai izin.

“Yang punya WiFi sudah meninggal, tapi dia kasih izin kami buat pake WiFi-nya,” ujarnya.

Mengenai sarang ular, lokasi berlangsungnya belajar online, Firnando mengaku tidak takut meski dia, Ali dan dua teman lainnya kerap dikejutkan dengan kehadiran hewan reptile.

“Gak takut, kadang lagi mau ngirim tugas ada biawak. Pernah juga ada ular sanca tiba-tiba nongol,” ungkapnya.

Mewakili para pelajar seluruh Indonesia, baik Ali dan Firnando berharap pandemi Covid-19 yang menjangkiti Tanah Air dan di sejumlah negara di dunia segera berlalu, sehingga proses belajar mengajar kembali normal, dilakukan secara tatap muka dan tak lagi membebani para pelajar, khususnya pelajar kurang mampu seperti mereka.

More From: Berita Menarik