Curhat Seorang Anak ini Viral, Gara Gara Ibunya Diabetes Tapi Dibilang Dokter Kena Corona


via: jatim.suara.com

Palingseru.com – Mengingat pandemi yang tak berkesudahan, berbagai kisah mengenai pasien Covid-19 di Indonesia pun masih belum mereda. Setiap harinya selalu muncul kisah baru yang datang dari keluarga pasien sendiri.

Seperti halnya kejadian yang dikisahkan oleh anak pasien sendiri di laman Facebooknya. Postingan ini dibuatnya bukan untuk menarik simpati dari khalayak warganet, melainkan bentuk protesnya terhadap pihak rumah sakit yang dianggapnya ‘sembarangan’ dalam menetapkan status positif Covid-19 terhadap pasien.

Ya, sang anak mengklaim bahwa ibunya mengalami demam dan sesak nafas karena penyakit diabetes yang telah diidapnya sejak lama. Bahkan, kondisi ini sudah biasa mereka saksikan disaat penyakit ibunya kambuh, termasuk pada Minggu (2/8/2020) lalu, seperti dilansir jatim.suara.com.

Hanya saja, tes diabetes ibunya saat itu tinggi hingga mencapai angka 500, sehingga tak bisa dirawat di rumah, harus segera dilarikan ke rumah sakit.

Di sini, anak perempuan pasien tersebut sudah mewanti-wanti agar ibunya tidak ditangani rumah sakit rujukan Covid-19, karena takut nanti ibunya langsung ditangani secara protokol virus corona.

Namun nyatanya, hal itu tak bisa ia hindari.

“Petugas medis menyarankan membawa ke rumah sakit yang lebih lengkap karena tidak ada alat untuk paru-paru. Setengah keadaan bingung saya terpaksa membawa ke rumah sakit viral itu,” tulis si anak.

Sesampainya di IGD rumah sakit yang viral karena jenazah probable COVID-19 diambil paksa oleh keluarga bulan lalu itu, ibunya langsung dilarikan ke ruang isolasi dan dokter mengindikasinya terkena Covid-19.

Dia kemudian diminta oleh dokter untuk menandatangani perawatan dan pemakaman secara Covid-19, namun ditolak mentah oleh sang anak hingga terjadi dialog sengit diantara keduanya, seperti di bawah ini.

Anak pasien: “Dicek dulu dok ibu saya diabetes, jangan panas sedikit langsung ke Covid, cek laboratorium dulu karena saya sudah cek laboratorium, hasil masih Senin keluar.”

Dokter: “Kita tetap cek tapi tetep melakukan tes sesuai protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Apabila anda setuju apa bersedia ditangani secara Covid jika meninggal harus dimakamkan secara Covid.”

Anak pasien: “Hasil tesnya belum keluar kok sudah harus di-Covid-kan dulu saya mau lihat hasilnya dulu baru setelah itu saya setuju jika dilakukan tindakan sesuai protokol Covid tapi kalau ibu saya bukan terinfeksi Covid saya tidak setuju jika jenazah harus ditangani seperti Covid.”

Pada akhirnya, dokter tersebut memutuskan untuk tidak merawat lebih lanjut ibunya jika masih bersikukuh tidak menyetujui surat tersebut.

Tapi lagi-lagi, dokter di rumah sakit itu membuat tindakan yang menyulut emosi sang anak, dimana hanya memberi oksigen pada ibunya.

“Kalau hanya sekedar oksigen itu artinya tidak ada tindakan apa-apa dari sini sama aja dengan membiarkan ibu saya meninggal. Ya sudah mending saya bawa pulang ibu saya dan saya tetap tidak mau tanda tangan karena hasil lab nya juga non reaktif dan ibu saya tidak terkena Covid,” kata si anak pada dokter dengan tegas.

Mengejutkannya, sang dokter tiba-tiba berkata kalau ibu anak itu sudah tiada. Itu berarti, sejak beberapa waktu lalu, ibu anak tersebut sudah meninggal, namun terus dipaksa untuk menandatangani surat.

“Saya tahu ibu saya sudah meninggal daritadi kenapa harus saya dipaksa tanda tangan seolah-olah masih harus dikasih tindakan dan di surat itu mengiyakan kalau jenazah terinfeksi Covid,” ucapnya.

“Saya bukan orang pintar dok tapi saya bisa baca hasil tesnya negatif kenapa harus saya menyetujui jika ibu saya Covid hanya karena gejala panas dan sesak,” timpalnya.

Permasalahan pun terus berlanjut hingga saat sang anak dan keluarga ingin mengambil jenazah untuk dimakamkan.

“Pengambilan jenazah dipersulit. Saya bersedia menjalani protokol pemakaman sesuai dengan anjuran pemerintah bukan berarti isinya harus mengiyakan ibu saya terkena Covid dan bersedia dimakamkan di tempat pemakaman Covid,” ujarnya.

Setelah terlibat perdebatan panjang, sang anak dan keluarga akhirnya mendapat izin untuk membawa pulang jenazah dan dimakamkan secara pribadi di TPU di Lumbang. Tapi dengan syarat, harus memakai APD lengkap.

More From: Berita Menarik