Kritikan Siswa SMA soal Pembelajaran Jarak Jauh ini Viral, Terkendala Gadget, Kuota, hingga Sinyal


via: tribunnews.com

Palingseru.com – Sudah hampir selama lima bulan Corona Virus Disease atau COVID-19 mewabah di negeri kita. Dan selama itu pula, para pelajar Tanah Air dirumahkan, dengan dialihkannya kegiatan belajar mengajar secara daring atau online.

Langkah ini diambil pemerintah guna memutus rantai penyebaran virus Covid-19. Namun apakah benar ini cara yang efektif?

Jawabannya tentu saja tidak!

Faktanya, banyak murid yang terbebani oleh kebijakan ini. Terkhususnya murid dari kalangan tidak mampu serta yang berdomisili jauh dari jangkauan internet.

Syamil Shafa Besayef adalah perwakilan pelajar yang menyampaikan kritikan terhadap pemerintah.

Menjadi salah satu peserta di virtual Zoom dalam peringatan Hari Anak Nasional dan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI pada Kamis (23/7/2020) lalu, kesempatan itu seolah tak ingin disia-siakannya begitu saja.

Syamil mengkritisi kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang akan dipermanenkan pemerintah.

Tentu, berbagai alasan mendorongnya menyampaikan kritikan tersebut.

Seperti tidak adanya sosok guru yang mengawasi anak diri selama proses pembelajaran.

“Kita kurang efektif tidak seperti di sekolah. Di sekolah kita dipantau langsung sama guru. Guru itu kan digugu dan ditiru.”

“Dan ada wacana saya lihat di berita, saya gak tahu ini benar apa enggak, bahwa PJJ ini akan dilaksanakan dengan permanen. Sedangkan kalau kita belajar cuma mau pintar, Google juga lebih pintar daripada sekolah,” tutur pelajar kelas 12 di SMAN 7 Jakarta itu di dalam video viral, seperti dilansir Tribunnews.com.

Masalah lain yang ikut menyertai dalam kebijakan PJJ ini ialah akses memadai dalam kegiatan belajar online.

Seperti dikisahkan Syamil, adanya orangtua dari tiga anak yang sama-sama belajar online tetapi hanya memiliki satu gadget.

Kemudian seorang driver ojek online yang harus menunggu hingga pukul 12.00 siang untuk bekerja lantaran gadget miliknya digunakan sang anak untuk belajar online.

“Kalau hal seperti itu masih terjadi, masa mau dipermanenin?”

“Buat apa kalau fasilitas kita nggak mendukung? Padahal pendidikan offline pun di Indonesia masih belum merata,” tandasnya.

Menurut Syamil, jika PJJ ini benar terealisasikan, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan menciptakan generasi suram.

“Saya rasa 75 tahun Indonesia merdeka, untuk generasi kita, generasi emas di 2045, kalau memang kita bersantai dengan PJJ, kita akan ketinggalan,” tegasnya dalam video yang sudah disaksikan lebih dari 40 ribu pasang mata.

More From: Berita Menarik