Gara-gara Harus Rapid Test Covid-19, Ibu Ini Kehilangan Bayinya Karena Telat Ditangani Padahal Ketuban Sudah Pecah


via: kompas.com/Arianti

Palingseru.com – Ketika rapid test lebih penting dari nyawa! Ya, inilah ‘fenomena’ memilukan yang sedang melanda penduduk Indonesia. Hati dan perasaan kini seolah terkikis, digantikan dengan rasa kepanikan serta ketakutan akan tertular Covid-19.

Hingga kini banyak orang yang menjadi korbannya, termasuk diantaranya Gusti Ayu Arianti. Ibu muda 23 tahun ini terpaksa merelakan jabang bayi yang telah dinantikannya selama 9 bulan terakhir ini karena kegoisan tim medis di Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) Wira Bhakti Mataram.

Disaat dirinya sudah hendak melahirkan buah hati, dengan disertai air ketuban pecah bahkan hingga mengeluarkan banyak darah, disaat itu juga tim medis terus mendesaknya untuk meminta melakukan rapid test Covid-19.

“Ketuban saya sudah pecah, darah saya sudah banyak yang keluar dari rumah, tapi saya tidak ditangani, kata petugas saya harus rapid test dulu, tapi di RSAD tidak ada fasilitas rapid test, saya diminta ke puskesmas untuk rapid test,” ceritanya, dilansir dari Kompas.com.

Arianti jelas menyesalkan tindakan ini, terlebih menurutnya, tak ada pemberitahuan dari awal terkait persyaratan tersebut.

“Saya itu kecewa, kenapa prosedur atau aturan ketika kami akan melahirkan tidak diberitahu bahwa wajib membawa hasil rapid test,” keluhnya.

Meski kesal dan dirundung amarah, Arianti beserta suami dan ibunya, Jero Fatmawati tetap mengikuti aturan pihak rumah sakit terkait hasil rapid test.

Namun malang, setibanya di puskesmas daerahnya, Arianti kembali mendapat perlakuan sama. Dia diabaikan, bahkan diminta untuk ikut antre.

Ketika diminta untuk ditangani, jawaban petugas puskesmas pun sama, yakni menunggu hasil rapid test. Padahal, kata Arianti, petugas bisa mengenakan alat pelindung diri lengkap jika khawatir terpapar Covid-19.

Hingga tiba masanya persalinan dengan operasi caesar, Arianti malah dihadapi kenyataan pahit. Bayi laki-laki yang hendak diberi nama I Made Arsya Prasetya Jaya itu dinyatakan meninggal.

“Kami mengikhlaskan apa yang telah terjadi, kami tidak akan menuntut, tapi kami hanya ingin ada perbaikan ke depannya, tangani dulu pasien, utamakan kemanusiaan, jangan mengutamakan rapid test dulu baru tangani pasien,” tegas ayah Arianti, Ketut Mahajaya.

More From: Berita Menarik