Harganya Anjlok, Petani Sayur Merapi: Daripada Busuk Sia-sia, Lebih Baik Disedekahkan


via: kompas.com

Palingseru.com – Setelah sebelumnya peternak ayam, kini giliran petani sayur menyusuli. Mereka juga terancam gulung tikar dan rugi besar akibat anjloknya harga jual sayur.

Inilah ‘jeritan’ histeris dari para petani di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Dalam beberapa waktu terakhir ini, harga jual sayuran turun drastis.

Seperti dikutip Kompas.com, harga jual sawi hijau atau cesin Rp 500 per kilogram, sawi putih Rp 500 per kilogram, terong Rp 1000 per kilogram, tomat Rp 500 per kilogram, cabai bangkok Rp 1000 per kilogram dan untuk cabai keriting Rp 5500 per kilogramnya.

Harga jual itu jelas tidak bisa menutupi biaya perawatan yang telah dikeluarkan para petani selama ini.

Karenanya, para petani sampai-sampai enggan memanen sayuran mereka, membiarkannya begitu saja.

Bersimpati dengan kondisi para petani, Komunitas Pembibitan Kremun Merapi bersama Forum Merapi Merbabu Hijau (FMMH), relawan dan Pendaki Pensiun lantas melakukan aksi panen dan kemudian membagi-bagikan atau sedekah hasil panen sayuran kepada warga dengan membuka lapak di Simpang Tiga Palbapang, Jalan Magelang-Yogyakarta, Mungkid, dan Jalan Magelang-Temanggung, Pringsurat.

“Sayuran tersebut sangat murah sehingga tidak dipanen petani. Sehingga kami bersama-sama memanen dari beberapa ladang petani, packing, lalu kami bagikan secara massal dan gratis,” tutur Wawan, salah satu anggota Komunitas Pembibitan Kremun Merapi.

Tidak hanya diberikan secara cuma-cuma pada warga, namun beragam sayuran hasil panen para petani ini juga diberikan ke beberapa pondok pesantren dan yayasan yatim piatu.

Diungkapkan oleh Komandan SAR Grabag, Budi Rahartono, aksi berbagi sayuran ini sudah dilakukan untuk keempat kalinya. Dan kemungkinan akan terus berlanjut hingga harga berangsur naik ke harga standar, karena melimpahnya sayuran yang dibiarkan oleh pemiliknya di ladang.

“Saat ini panen sayur cukup banyak, akan tetapi harganya turun drastis. Sehingga petani memilih tidak panen, membiarkan busuk, layu, bahkan tidak terawat di ladang. Karena tidak cucuk (untung) dengan harga bibit, pupuk sama tenaganya dan sarana transportasinya,” ungkap Budi.

Dia pun berharap kondisi buruk ini segera berlalu agar nasib para petani kembali membaik, dan kehidupan perekonomian mereka juga.

More From: Berita Menarik