Syekh Ali Jaber Tidak Terima Pelaku Dianggap Gila, “Kalau saya tidak bergerak, bisa saja pisau itu kena leher atau kepala saya”


via: tribunnews.com/Syekh Ali Jaber memberikan keterangan pers di Kafe Baba Rayan, Jl Pangeran M Noer, Kelurahan Durian Payung, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung, Senin (14/9/2020).

Palingseru.com – Menyusul ramainya kasus penusukan Syekh Ali Jaber pada Minggu (13/9/2020) petang lalu, mencuat sebuah fakta terkait kondisi pelaku yang disebut alami gangguan kejiwaan, sebagaimana pengakuan ayah kandungnya, M. Rudi Bin Zaenal Arifi (48).

Ayah pelaku menyebut, bahwa anaknya Alpin Andrian (22) sudah empat tahun terakhir mengalami gangguan kejiwaan. Dia jarang berinteraksi, selalu mengurung diri di dalam kamar sejak ditinggal ibunya pergi bekerja di Hongkong.

Namun kabar ini belum diindahkan oleh pihak kepolisian, karena belum adanya bukti yang menunjukkan bahwa kejiwaan pelaku terganggu.

Pun demikian dengan Syekh Ali Jaber, selaku korban penusukan.

Dia menampik jika pelaku penyerangan terhadap dirinya saat mengisi acara di Masjid Falahuddin Bandar Lampung itu dikategorikan sebagai orang yang mengalami gangguan jiwa.

“Saya tidak terima pelaku dianggap gila. Orangnya (pelaku) sangat berani dan terlatih,” katanya dalam konferensi pers di Kafe Baba Rayan, Jalan Pangeran M Noer, Kelurahan Durian Payung, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung, Senin (14/9). Dikutip dari TribunBanten.com.

Apalagi, pelaku saat itu ingin menyasar bagian vital tubuhnya, yakni leher, dada maupun kepala. Hanya saja, Syekh Ali Jaber langsung bergerak cepat hingga hunusan pisaunya meleset dan mengenai lengan.

“Kalau saya tidak bergerak, bisa saja pisau itu kena leher atau kepala saya,” tuturnya.

Karena itu, pendakwah asal Madinah yang sudah 12 tahun menetap di Indonesia, untuk menyiarkan ilmu agama ini berharap aparat kepolisian dapat melaksanakan tugasnya secara profesional.

“Mohon dihukum karena kita negara hukum. Jangan main hakim sendiri,” ucapnya.

More From: Berita Menarik