Rangga Bocah Yang Tewas Karena Membela Ibunya Ketika Diperkosa Ternyata Sosok Yang Pintar dan Juga Pandai Mengaji


via: today.line.me

Palingseru.com – Hingga saat ini, media sosial masih diramaikan dengan pemberitaan mengenai Rangga.

Bocah 9 tahun itu mendapat ruang tersendiri atas topik pembicaraan hangat di tengah khalayak.

Bagaimana tidak, Rangga meninggal dunia disaat membela dan mempertahankan kesucian ibunya Dn (28), yang ketika itu akan direnggut oleh pelaku kejam Samsul Bahri (41).

Ya, meski masih belia dan memiliki tubuh mungil, dengan berani dan tangguhnya Rangga berdiri di depan membela ibunya.

Tapi naas, kekuatan yang dimilikinya tak dapat mengalahkan pelaku, dan justru merenggut nyawanya. Rangga meninggal akibat sabetan senjata tajam dari pelaku.

Kematian Rangga ini sontak menjadi kabar mengejutkan bagi ayahanda tercintanya, Fadli Fajar, yang tinggal terpisah di Medan Selayang.

“Saya hampir tak percaya mendengar kabar Rangga meninggal. Apalagi dia meninggal karena sabetan parang pelaku karena berusaha membantu ibunya di rumah itu,” ucapnya.

Dilansir today.line.me, ayah dan ibu Rangga telah lama berpisah. Namun selama perpisahan itu, Rangga bersama adiknya diasuh oleh ayahnya. Baru beberapa pekan ini dia tinggal bersama ibunya di Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur.

Diakui Fadli, saat putra sulungnya dijemput oleh mantan istri, dia memang merasa berat untuk melepasnya.

“Tapi karena almarhum terus merengek dan bersikeras ikut, akhirnya saya mengizinkannya,” ungkap Fadli.

Namun diluar pikirannya, jika itu adalah pertemuan terakhirnya dengan sang anak. Dan momen ulang tahun almarhum menjadi kenangan manisnya sebelum meninggal.

“Tanggal 19 September 2020 lalu, saya baru saja merayakan ulang tahun almarhum yang genap berusia 10 tahun,” terang Fadli sambil menangis.

Rangga sendiri, dikatakan Fadli, merupakan anak yang cerdas. Dia selalu mencetak prestasi membanggakan, dengan meraih ranking 1 dan 2 di sekolahnya.

“Almarhum memang beda dengan anak seusianya, ia anak cerdas, periang, keras berpendirian, dan selalu mendapat ranking di kelas,” tuturnya.

“Bahkan sekarang ia sudah mampu membaca Al Quran,” sambung Fadli seraya menangis.

Meski dirasa amat berat, Fadli mengaku telah mengikhlaskan kepergian putra tercintanya itu.

“Allah SWT lebih sayang kepadanya, sehingga memanggilnya duluan daripada kami. Selamat jalan nak, kami akan selalu merindukanmu nak,” tutup Fadli dengan air mata bercucuran.


Like it? Share with your friends!