Jalan Kaki, 2 Ibu ini Harus Gendong Ubi Seberat 18 Kg Untuk Dijual Keliling Agar Bisa Bertahan Hidup di Masa Pandemi


via: kompas.com

Palingseru.com – Pandemi ini menimbulkan ketidakberdayaan di tengah kehidupan masyarakat.

Lapangan pekerjaan yang semakin sempit serta pembatasan ruang gerak dalam mengais rezeki dengan adanya protokol kesehatan lah yang membuat masyarakat tidak berdaya.

Satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup ialah berdagang atau membuka usaha kecil-kecilan. Itu pula cara yang dipilih Aan dan adiknya, Titi. Dua ibu asal Limbangan, Garut ini ikut terjun langsung mencari nafkah dengan berjualan keliling ubi cilembu.

Perjalanan yang ditempuh bukan di daerah sekitar tempat tinggal, melainkan hingga lintas kota atau kabupaten.

Seperti dilansir Kompas.com, Aan dan Titi setiap harinya berangkat dari Garut pagi-pagi pukul 04.00 WIB dengan naik kereta menuju Kota Bandung sampai Purwakarta. Sedangkan beban yang mereka pikul seberat 18 kilogram dengan dua kantong seberat 2 kilogram dijinjing.

“Kami berangkat pukul 4 pagi. Tapi hingga malam ini belum laku juga,” curhat Titi.

Keuntungan yang didapatkan dari berdagang ubi cilembu sendiri jangan ditanyakan lagi. Tak banyak yang mereka dapatkan, hanya Rp 5.000 per 1 kilogram.

Namun karena kondisi yang terdesak seperti ini, ditambah suami mereka jarang mendapat pekerjaan, membuat Aan dan Titi mau tidak mau melakoni profesi tersebut agar dapur tetap ngepul.

Beruntungnya, mereka kerap disandingkan dengan konsumen berhati mulia.

“Terkadang ada pembeli yang baik, membeli ubi dengan diberi uang tambahan,” ungkap Titi.

Bahkan pada Sabtu (17/10/2020) kemarin, mereka dipertemukan dengan sosok malaikat penolong. Yakni Dedi Mulyadi, anggota DPR RI.

Aan dan Titi saat itu dihampiri oleh pria yang karib disapa Kang Dedi itu dan diberi sumbangan. Seluruh dagangan mereka bahkan juga diborong oleh Kang Dedi, yang seketika membuat keduanya menangis haru.

“Ibu itu suka jalan lintas kabupaten. Mereka berjualan ubi cilembu dengan digendong naik kereta. Ngejar tiket murah dan pulang dini hari. Saat menunggu kereta malam-malam mereka akhirnya bertemu saya,” kata Kang Dedi.

“Mungkin di era pandemi ini, para suaminya sulit mendapat pekerjaan sehingga mereka berjualan keliling,” lanjutnya.


Like it? Share with your friends!