4 Bocah yang Alami Gizi Buruk ini Tinggal di Rumah Tak Terawat Bersama Ibunya Yang Alami Gangguan Jiwa


via: kompas.com

Palingseru.com – Kasus gizi buruk pada anak di Indonesia memang cukup tinggi. Berdasarkan keterangan perwakilan Badan PBB untuk anak-anak (UNICEF) untuk Indonesia, Debora Comini, ada sekitar 2 juta anak di Indonesia menderita gizi buruk (sebelum pandemi).

Dalam kasus ini, ada banyak faktor pemicunya. Seperti keterbatasan ekonomi, ketidaktahuan akan manfaat pemberian gizi dan sebagainya.

Namun untuk kasus gizi buruk yang sedang ditangani Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPPAPPKB) Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara berikut ini dilatarbelakangi faktor berbeda.

Masalah gizi buruk yang dialami oleh empat anak atas inisial R (7), dan ketiga adiknya, S (5), I (3) dan Sup (1) disebabkan tak terawat akibat ibu yang mengalami gangguan mental atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Ibu mereka, Rosnaeni (26) sudah lama menderita gangguan jiwa hingga membuat kehidupan mereka tak terurus secara tepat. Terutama untuk soal asupan nutrisi dan gizi sehari-hari.

Bahkan rumah mereka yang berada di pedalaman Desa Balansiku, Sebatik, dalam kondisi berantakan. Dimana pakaian bersih dan kotor bertumpuk menjadi satu, serta perabot dan bekas makanan anak-anak terhambur tidak karuan, sebagaimana dilansir Kompas.com.

Selama ini, Rosnaeni hanya memberi anak-anaknya makan berupa nasi dan sayuran hijau tanpa lauk pendamping lain. Karena hal ini pula, keempat bocah malang itu sampai menyingkirkan jagung dan ikan saat diberi hidangan menu sayur asem dan ikan goreng oleh petugas.

“Kami coba suapkan ikan supaya dia rasa, begitu terasa enak, baru dia makan. Begitu juga jagung, kita suapkan dulu dan akhirnya mereka makan, sampai segitunya, mereka tidak tahu ikan goreng,” ujar Faridah Aryani, Kepala Dinas DPPPAPPKB Nunukan.

Petugas sendiri telah mengambil tindakan dengan membawa anak tertua dan kedua ke Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Ruhana untuk diajarkan cara beradaptasi serta menimba ilmu pendidikan.

“Untuk dua anak lainnya masih harus sama ibunya, rencananya akan kami bina dan konseling di RPTC,” kata Faridah.

Sedangkan ibunya Rosnaeni, rencananya akan dibawa ke Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) Nunukan, namun masih terkendala oleh persetujuan suaminya, Herman (52).

“Dia (Herman) diam saja saat ditanya, dia ambruk, badannya dibuat kaku. Saat diangkat petugas pun dia bikin badannya tegang supaya susah diangkat. Akhirnya kita batalkan karena untuk membawa Rosnaeni butuh persetujuan suami. Kita takutnya nanti suaminya berbuat yang aneh-aneh atau bunuh diri,” ungkap Faridah.


Like it? Share with your friends!