Buaya yang Buat Heboh Warga Makassar karena dianggap Kembaran Manusia Akhirnya Mati


Buaya di Sungai Tallo, Makassar, yang diyakini keturunan manusia. (Hermawan/detikcom) // Via : Detik.com

PalingSeru – Kini sudah mati, buaya muara yang sebelumnya diyakini oleh warga sebagai kembaran manusia di Kota Makassar membuat hebh. Buaya yang juga diyakini hanya mios itu mati tidak lama setelah disambut warga. Buaya tersebut pertama kali muncul di Sungai Tallo, Makassar, pada Selasa (10/11) lalu.

Lantas kemunculan buaya tersebut membuat heboh dan akhirnya viral di media sosial. Kemudian seorang warga bernama Muliadi mengamankan buaya tersebut ke rumahnya di di Jalan Pacinan, Kelurahan Tello Baru, Panakkukang, Kota Makassar.

Saat berada di rumahnya, Muliadi memperlakukan buaya tersebut dengan hormat di ruang tamu rumahnya. Hal itu ia lakukan karea dirinya yakin buaya itu merupakan kerabatnya. Namun, akhirnya buaya tersebut dikabarkan sudah mati tidak lama setelah dilakukan acara penyambutan.

“Kemarin sempat ada acara penyambutan dengan (musik) gandrang bulo, tidak lama kemudian mati itu buaya,” ujar Bhabinkamtibmas Tello Baru Bripka Muhammad Kazim kepada detikcom, Jumat (13/11/2020).

Sebelumnya, buaya tersebut sempat dievakuasi ke rumah Muliadi di Jl Pacinan Raya, Panakkukang, Makassar, Rabu (11/11) dan warga setempat juga melakukan upacara penyambutan dengan menabuh Gandrang Bulo. Namun, karena buaya tersebut sudah dalam keadaan mati, akhirnya warga setempat membawa buaya tersebut ke bantaran Sungai Tallo pada Kamis (12/11) sekitar pukul 14.00 Wita, untuk dilarung ke sungai.

“Awalnya mau dikasi turun di sungai tapi permintaan warga di bantaran sungai mending dikuburkan karena sudah bentuk bangkai, dan warga akhirnya sepakat. Seandainya masih hidup mungkin dilepas (ke sungai),” kata Kazim.

Namun, saat warga membawa buaya tersebut ke sungai untuk dilarung, mereka gagal melakukannya karena warga akhirnya menguburkan buaya tersebut. Saat dibawa ke bantaran Sungai Tallo, warga sempat menabuh gandrang bulo sebagai upacara pemakaman. Buaya itu selanjutnya dikuburkan.

“(Dikuburkan) di pinggiran sungai, kan di situ di bantaran sungai ada beberapa kepala keluarga yang tinggal yang profesinya itu nelayan dan cari ballo, tuak,” tuturnya.

Sementara itu, guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Dr Nurhayati Rahman, mengatakan jika kepercayaan terhadap mitos buaya mura tersebut seperti yang dilakukan Muliadi memang masih eksis di sebagian masyarakat Bugis-Makassar. Masuknya agama Islam ke Sulawesi Selatan membuat cara beragama masyarakat Bugis-Makassar terbagi menjadi tiga bagian.

“Cara beragama orang Bugis-Makassar itu ada yang militan, ada yang mengasimilasikan, dan ada yang mendua,” kata Nurhayati dalam perbincangan dengan detikcom.

Lebih lanjut Nurhayati mengungkap kepercayaan warga di sekitar Sungai Tallo, Makassar, yang meyakini buaya tersebut sebagai saudaranya dan keturunan dari orang tua, yang menunjukkan cara beragama yang mendua setelah masuknya agama Islam di tanah Bugis-Makassar.

“Yang mendua ini yang banyak, terutama di desa-desa. Seperti itu mi wujudnya, dianggap bahwa (buaya tersebut sebagai) saudaranya itu yang datang,” tutur Nurhayati.


Like it? Share with your friends!