Kisah Pilu Maryati, Rela Berbagi Suami dengan Anak Kandung


Foto trans media

Menjalani biduk rumah tangga tak semudah yang dibayangkan. Dalam menjalani rumah tangga, sering kali dirundung ujian dan prahara.

Seperti yang dialami oleh wanita bernama Maryati. Dia harus menerima kenyataan pahit jika sang suami menikahi putri pertamanya.

Terdengar miris, tapi Maryati berusaha tegar menerima kenyataan itu. Kini ia tinggal bersama ketujuh buah hatinya, serta empat cucu dari pernikahan suami dengan anaknya.

Berikut kisah lengkapnya.

Semasa remaja, Maryati tak bisa merasakan indahnya percintaan layaknya anak seusianya kala itu. Baru menginjak 14 tahun, ia sudah dijodohkan dengan pria asal Makassar bernama Saibo.

Maryati tenggelam dalam tipu daya ibu kandungnya sendiri. Dari pernikahannya tersebut, Maryati dan Saibo dikaruniai seorang putri bernama Suti.

“Dijodohin sama orangtua. Tadinya saya nggak mau. Jadi saya terpaksa, saya dibohong-bohongin sama ibu saya, kata Maryati seperti dikutip dari YouTube TRANS TV Official.

Sayangnya biduk rumah tangga keduanya tak bertahan lama. Saat Suti masih berusia 8 bulan, Saibo pergi entah kemana dan tak bertanggung jawab sama sekali.

“Suami saya yang dulu itu pergi gitu saja nggak ngurusin saya. Saya diputusin dicerai,” ujarnya.

Selama 18 tahun Maryati menjanda. Kala itu ia tengah menjaga warung nasi milik bibinya. Maryati dipertemukan dengan Kamsin, pria yang 5 tahun lebih muda darinya.

Hingga kisah cinta keduanya berlabuh ke pelaminan. Dari pernikahan itu keduanya  dikaruniai 10 orang anak, tapi hanya 7 anak yang hidup. Sementara 3 di antaranya meninggal karena sakit dan tak ada biaya pengobatan.

“Ini gua bilang, wah orang ini untuk berumah tangga bisa ini. Bisa diajak susah, karena keadaan saya kan orang susah. Kalau istilahnya, dia ini apa adanya terima, seribu terima ya terima. Makanya saya ambil jadi ibu rumah tangga,” ujar Kamsin.

Kehidupan keluarga Maryati dan Kamsin terbilang di bawah ekonomi yang rendah. Setelah tak bisa bekerja di gudang, Kamsin beralih menjadi kuli bangunan. Itu pun bila ada yang hendak membangun rumah, dengan pendapatan Rp50 ribu per hari.

“Bapak kerjanya di sini, tadinya di gudang. Sekarang kan di gudang sepi saja, sudah nggak kerja dapat dua tahun. Makanya disuruh kerja saja sama orang bikin rumah. paling sehari Rp50 ribu,” terang Maryati.

Demi mencukupi kebutuhan rumah tangga, Maryati ikut membantu biaya dengan jasa pasang baut dari pabrik. Seminggu sekali ia mendorong gerobak berjalan dari rumah ke pabrik untuk membawa baut. Maryati bisa memperoleh Rp7500 per kotak, tapi kemampuannya selama ini hanya dua kotak.

“Tadinya kan tiap minggu, sekarang diubah jadi dua minggu sekali. Paling pendapatan dua minggu sekali itu kadang Rp150, kadang Rp100,” tutur Maryati.

Lantaran hidup yang serba kekurangan, ketujuh anak Maryati harus terpaksa berhenti sekolah. Sempat ditawarkan untuk lanjut ke jenjang SMP. Tapi sayang, Kamsin tak dapat mengumpulkan uang yang cukup.

“Ya berhubung saya nggak punya duit. Mau nerusin gimana, ya terpaksa diam saja di rumah. Tadinya mau dilangsungin SMP dia, tapi bapaknya nggak dapat-dapat duit. Ya sudah nganggur saja dia,” ucap Maryati.

Tahun 2004 menjadi momen paling mengenaskan bagi Maryati. Tak disangka sang suami mendadak pulang memaksa menjual televisi untuk biaya menikah dengan putri pertamanya, Suti.

“Saya jual TV itu Rp400 ribu buat nikah,” papar Kamsin.

Meski anak tiri bagi Kamsin, namun hal itu tetap saja menyayat hati Maryati. Ia terpaksa rela dimadu oleh anaknya sendiri dan tinggal bersama.”Ya sudah situ kalau mau kawin, tapi janganlah sama Suti, saya bilang. Saya nggak mau tadinya. Tapi terpaksa dia mintanya sama Suti,” ungkap Maryati.”Saya terpaksa nikahin. Maksudnya itu biar apa, biar nggak ada omongan itu ini. Gitu maksudnya, saya sebenarnya nutupin itu. Jadi sekali dua kali saya sabarin, tiga kalinya, biar resmi saya nikahin. Buat nutupin itu, nggak tahan sama ocehan tetangga. Biar sekalian resmi, biar orang mulutnya nggak ini itu,” pungkas Kamsin


Like it? Share with your friends!