Biayai Suami Bekerja di Luar Negeri, Ibu ini dan Anaknya Kini Tinggal di Gubuk Bambu


Pasangan suami istri Rahman (60) dan Iin (40) warga Kampung Sukamukti Desa Cimentenh Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur, kini harus hidup menyedihkan karena membiayi bekerja di luar negeri. (Ayobandung.com/Muhammad Ikhsan)

Pasangan suami istri Rahman (60) dan Iin (40) warga Kampung Sukamukti Desa Cimentenh Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur, kini harus hidup menyedihkan karena membiayi .

Betapa tidak, Rahman dan istrinya harus tinggal di rumah gubuk bambu beserta lima anaknya yang masih kecil-kecil. Sehari makan, sehari kadang harus puasa.

Awalnya Rahman sekeluarga hidup sedehana, rumah permanen dan tidak pernah kekurangan memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Namun, rumah dan lahan kebunnya dijual untuk membiaya suaminya . Berharap pulang membawa uang, ternyata tidak menghasilkan apa-apa.

Iin mengatakan, sudah dua tahun menempati rumah gubuk bambu tersebut. Dinding bilik bambu, atap yang sudah rapuh dan berlubang memaksa tidak bisa tidur seandainya hujan turun di malam hari.

“Sudah dua tahun tinggal di rumah ini, karena uang habis dipakai bapaknya biaya untuk ,” tuturnya,” kata Iin pada wartawan, Minggu 1 Agustus 2021.

Selain kondisi rumah dan kebutuhan sehari-hari yang sulit, Iin mengaku merasa bersalah dan sedih dengan kondisi anak-anaknya yang masih sekolah.

“Kalau lihat anak saya belajar hanya bisa di siang hari, kalau malam nggak bisa kan tidak ada listrik. Itupun di luat rumah pakai alas karung, kan di dalam sempit,” tuturnya.

Iin selama ini tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, baik itu program PKH, BLT, BPNN maupun yang lainnya.

“Saya berharap ada bantuan dari pemerintah, selama ini hanya mendengat dari tetangga saja kalau pemerintah suka memberikan uang, beras dan lainnya,” keluhnya.

Sementar itu, Kades Desa Cimenteng, A Haris Suryadi, membenatkan jika keluarga Rahman tinggal digubuk di atas tanah milik perusahaan swasta.

“Kalau nggak salah sudah setahun lebih tinggal disitu, kondisinya memang memperihatinkan,” kata Haris.

Pemerintah tidak tinggal diam, bahkan rumah bambu itu hasil gotong warga atas inisiatif desa dan warga. Bahkan, saat ini sudah diajukan pembangunan rumah ke Dinas Sosial.

“Kita bergerak membantu keluarga itu, bahkan terakhir kita kasih bantuan Bantuan Langsung Tunai dari Dana Desa, program lainnya segera akan diajukan,” tandasnya.


Like it? Share with your friends!