Berawal dari Kebutuhan Mendesak dan Ketidaktahuan, Kini Afifah Tanggung Utang Rp 206 Juta di 40 Pinjol Ilegal


via: kompas.com/Afifah didampingi kuasa hukumnya, Muhammad Sofyan dari Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum (LPBH) Nadhlatul Ulama Cabang Salatiga.

Palingseru.com – Fenomena pinjol alias pinjaman online kini semakin marak dan mengerikan. Sudah banyak warga yang menjadi korbannya, terlilit dengan bunga pinjaman melejit yang bikin nyekik.

Afifah Muflihati adalah salah satunya. Ibu muda 29 tahun ini bahkan harus dihadapi utang senilai Rp 206 juta, dari yang awalnya hanya meminjam Rp 5 juta di sebuah aplikasi pinjol yang dilihatnya saat berselancar di media sosial.

Keputusan yang diambil Afifah saat itu sendiri didesak oleh kondisinya yang tak memiliki uang sepeser pun, namun di sisi lain ia harus membeli kebutuhan susu untuk kedua anaknya pada Maret 2021 lalu.

“Saya merasa (pinjaman online) ini bisa menjadi solusi untuk membantu saya mendapatkan pinjaman uang tanpa proses yang ribet. Sebelum pinjam di pinjaman online tersebut, sempat mau pinjam uang ke teman-teman, tapi kondisinya sama dengan saya, jadi saya urungkan,” imbuh Afifah, dilansir Kompas.com.

“Prosesnya sangat cepat, tidak sampai lima menit sudah selesai. Saya hanya diminta untuk foto diri dan foto KTP, serta foto memegang KTP,” Afifah menerangkan.

Saat itu, bukan hanya satu aplikasi online yang diakses Afifah, namun tiga aplikasi, dengan total pinjaman Rp 5 juta.

Namun keanehan sudah terjadi di awal. Uang yang masuk di rekeningnya hanya Rp 3,7 juta, tidak sesuai dengan pengajuannya.

“Pinjam Rp 5 juta, diterima Rp 3,7 juta, disuruh melunasi Rp 5,5 juta,” ujar guru honorer tersebut.

Tak berhenti sampai di situ, memasuki 5-7 hari setelah pengajuan, kondisi yang dihadapi Afifah sudah semakin mengerikan. Mulai dari pesan ancaman pelunasan, teror WA ke rekan-rekan Afifah yang ada di kontak phonebook, hingga editan foto tak senonoh dirinya.

“Selain kata-kata kotor, ada foto editan seolah telanjang dan disebar ke kontak WA yang ada. Kata-katanya juga penuh ancaman, fitnah, dan mencemarkan nama baik,” ungkap Afifah.

Karena kondisi ini, Afifah kembali memutuskan untuk melakukan pinjam online lainnya, total ada 40 aplikasi pinjol ilegal, untuk membayar utang pelunasan.

“Bisa dikatakan gali lubang tutup lubang di pinjol itu, tapi setelah dihitung malah utangnya jadi Rp 206 juta,” katanya.

Berlanjut, Afifah pun akhirnya menggadaikan sertifikat rumahnya, namun miris utangnya masih juga tersisa dalam angka besar.

“Jadi ada Rp 158 juta yang sudah dikembalikan, tapi masih ada tagihan Rp 48 juta. Kalau dihitung, saya malah rugi Rp 75 juta,” tuturnya.

Atas kejadian pahit yang dialaminya, Afifah meminta kepada warga untuk jangan sekali-kali melakukan pengajuan utang di pinjaman online ilegal.

Kasusnya sendiri sudah dilimpahkan ke Polda Jawa Tengah melalui Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum (LPBH) Nadhlatul Ulama Cabang Salatiga.


Like it? Share with your friends!