Sudah Ada di Malaysia, Corona ‘Delta Plus’ AY.4.2 Berpotensi Masuk RI!


Gambar ilustrasi penaganan pasien Corona via: tribunnews.com

Kementerian Kesehatan RI meminta masyarakat mewaspadai kemunculan subvarian Delta AY.4.2 di Malaysia. Corona ‘Delta Plus’ tersebut ditemukan di Malaysia, teridentifikasi di dua siswa yang baru pulang dari Inggris.

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) dr Siti Nadia Tarmizi, potensi masuknya varian Delta AY.4.2 ke Indonesia tentu ada. Di tengah ancaman gelombang ketiga COVID-19 jelang libur Natal dan Tahun baru, dr Nadia memperingatkan masyarakat menahan mobilitas yang tidak perlu.

“Potensi mungkin ada, tapi kita harus selalu waspada,” ungkap dr Nadia kepada¬†detikcom¬†Senin (8/11/2021).

“Gelombang ketiga bisa dicegah dan masyarakat segera divaksinasi dengan apapun mereka vaksin. Tetap disiplin protokol kesehatan dan pastikan mobilitas yang tidak perlu untuk ditunda atau dikurangi,” sambung dia.

Sementara, beberapa waktu lalu Eks Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama (WHO) mengungkap subvarian Delta AY.4.2 memiliki karakteristik penularan lebih cepat hingga 10 hingga 15 persen dari varian Delta. Varian AY.4.2 yang menjadi kekhawatiran peningkatan kasus COVID-19 di Inggris belakangan juga ditakutkan berdampak pada efikasi vaksin COVID-19.

“Dari lima kemungkinan dampak, maka baru ada informasi tentang penularannya, yaitu bahwa AY.4.2 ini nampaknya sekitar 10 sampai 15 persen lebih menular,” kata Prof Tjandra dikutip dari ANTARA.

Prof Tjandra juga menyinggung sudah ada 26 ribu subvarian Delta AY.4.2 yang dilaporkan dari 42 negara. Namun, belum ada data apakah Corona AY.4.2 memang berdampak pada efikasi vaksin.

Menurutnya, varian AY.4.2 ini mengandung mutasi A222V dan Y145H. Bahkan data dari lembaga internasional GISAID menunjukkan sudah ada 26 ribu genom AY.4.2 yang dilaporkan dari 42 negara.

“Kita tahu kalau ada varian baru virus SARS-CoV-2, maka selalu dibicarakan kemungkinan lima dampaknya, yaitu pada penularan, beratnya penyakit, kemungkinan infeksi ulang, dampak pada diagnosis, dan dampak pada vaksin,” jelasnya.


Like it? Share with your friends!