Kisah Pilu Pria Tolitoli, Tangan Diamputasi akibat Pakai Sweater saat Dibonceng Menuju Tempat Kerja


Taqwatul Iman (19) terbaring di RSUD Nunukan, didampingi Suriana (kiri), Senin (3/1/2021) sore. Kisah pilu pria asal Tolitoli, tangannya diamputasi di tempat perantauan. Baru tiga bulan bekerja demi nafkahi istri dan bayinya di kampung halaman.
Taqwatul Iman (19) terbaring di RSUD Nunukan, didampingi Suriana (kiri), Senin (3/1/2021) sore. Kisah pilu pria asal Tolitoli, tangannya diamputasi di tempat perantauan. Baru tiga bulan bekerja demi nafkahi istri dan bayinya di kampung halaman.

 Nasib nahas dialami pria asal Toli-Toli, Sulawesi Tengah yang tengah merantau ke Pulau Sebatik, Kalimantan Utara.

Pria bernama Taqwatul Iman (19) ini meninggalkan kampung halamannya untuk menafkahi istri dan bayinya yang berusia 7 bulan.

Kini ia harus merelakan tangannya diamputasi akibat kecelakaan saat menuju tempat kerjanya.

Pemicu kecelakaan tersebut terbilang sepele, karena ia berusaha menggunakan sweater saat dibonceng motor rekannya.

Dikutip dari TribunKaltara.com, Iman menceritakan kronologi kecelakaan yang ia alami.

Mulanya, ia hendak pergi berangkat bekerja mabetang (mengikat rumput laut) di Desa Bebatu, Sebatik Barat.

Ia berangkat bersama rekannya dan duduk di jok belakang.

Di tengah perjalanan, Iman mencoba mengenakan sweater.

Namun baru memasukkan tangan kanannya, lengan sweater bagian kiri terjuntai masuk ke pelek motor.

Akibatnya tangan kiri Iman tergilas di pelek motor.

Lalu, mereka terjatuh dari motor dan sempat terseret di aspal.

Iman pun kaget saat menyadari tangan kirinya sudah tak berbentuk.

Rekannya langsung membawa Iman ke RSUD Nunukan untuk segera ditangani.

Saat ini terbaring di kamar perawatan di RSUD Nunukan.

Tangan kirinya tampak dibalut perban karena diamputasi.

Selain itu, tulang kaki kiri Iman juga mengalami pergeseran akibat kecelakaan tersebut.

Beberapa luka lecet bekas terseret aspal terlihat di bagian tangan dan kakinya.

“Kejadiannya itu sudah seminggu yang lalu. Teman saya yang antar saya ke sini (RSUD Nunukan),” kata Taqwatul Iman, Senin (3/1/2022) sore, dikutip dari TribunKaltara.com.

Yang lebih memilukan, rupanya ia baru tiga bulan bekerja dan tidak memiliki sanak saudara di perantauan.

“Dan saya tidak punya keluarga juga di sini. Di Sebatik, baru tiga bulan saya kerja rumput laut,” sambungnya.

Iman menceritakan ia terpaksa merantau karena sudah tidak memiliki pekerjaan di kampungnya.

Sebelumnya, ia bekerja di tempat dekorasi pernikahan demi modal menikah.

“Di kampung saya tinggal sama mama, ayah tiri, dan adik tiri. Karena saya sudah tidak diperhatikan lagi sama mereka, jadi saya kerja buat dekorasi acara pengantin. Udah cukup uang, tahun lalu saya putuskan untuk nikah,” ucapnya.

Akibat pandemi, ia kehilangan pekerjaannya di usaha dekorasi pernikahan tersebut.

Hingga akhirnya ada rekan yang menawarkan pekerjaan di tempat rumput laut.

Meski jaraknya jauh, mau tak mau ia mengambil tawaran itu dan merantau di Pulau Sebatik.

“Begitu pandemi pesta sudah tidak dibolehkan, jadi kerja sudah tidak ada. Akhirnya saya hubungi teman di Sebatik, katanya ada kerja di rumput laut. Jadi saya merantaulah ke Sebatik,” tambah Iman.

Tak hanya bekerja, ia juga mempunyai tujuan untuk mencari ayahnya yang menghilang sejak ia berusia 4 tahun.

Ia berangkat bermodal tekat dan uang hasil pinjaman.

Biaya transportasi Iman dari Toli-Toli menuju Sebatik sebesar Rp 900 ribu dibayari oleh bosnya.

Bahkan ia mengaku mempunyai hutang Rp3 juta dengan bosnya untuk ia kirim ke istrinya yang sedang sakit.

“Jadi saya ini punya hutang juga Rp3 juta dengan bos saya. Dia yang bayar uang tiket kapal ke Nunukan. Sampai di Sebatik dia kasi saya Rp100 ribu. Saya juga sempat pinjam uang Rp2 juta untuk kasih istri saya di kampung. Dia sakit juga,” ujarnya.

Beruntung, Iman mendapatkan bantuan dari keluarga pasien yang satu ruangan dengannya.

Wanita tersebut bernama Suriana, ia membantu merawat hingga membagikan kisah Iman di Facebook dengan harapan ada keluarga yang menjenguk Iman.

Suriana merasa iba karena Iman juga tengah mencari ayahnya, namun Iman tidak mempunyai telepon genggam untuk menghubungi siapapun.

“Kebetulan ada keluarga yang saya jenguk dan satu ruangan sama anak ini. Jadi saya tanya kenapa sendiri, dia bilang saya tidak punya keluarga. Dia sempat minta bantu carikan bapak dia, karena dia tidak punya Hp sama sekali,” tutur Suriana, berdiri di samping Iman.

Setelah ia mengunggah kisah Iman, postingan Suriana pun banjir komentar positif berupa dukungan doa dari warganet.

Bahkan mereka juga memberi bantuan uang yang ditransfer melalui rekening Suriana.

Tak hanya warganet, bantuan juga datang dari perawat yang patungan untuk mengaktifkan keanggotaan BPJS Iman.

“Donasi yang terkumpul Rp18 juta. Uang Rp8 juta masuk direkening saya dan Rp10 juta masuk di rekening perawat. Mereka patungan biayai BPJS Iman sebesar Rp1 juta lebih,” ungkap Suriana meneteskan air matanya.

Selain itu, berkat postingan Suriana juga, akhirnya Iman mengetahui keberadaan paman dan ayahnya di Tarakan.

Ia pun sempat menghubungi pamannya dan merencanakan pertemuan dengan Iman.

“Iya dia sudah video call sama pamannya. Nah, pamannya itu cari bapaknya di Tarakan dan sudah ketemu. Sore ini datang dari Tarakan. Kami sudah upayakan bayar tiket speedboatnya, karena katanya bapaknya baru-baru ini kena musibah kebakaran,” imbuhnya.

Suriana pun bersyukur ada banyak manfaat dari postingannya di Facebook.

Rupanya ayah Iman juga berusaha mencarinya namun sudah hilang kontak.

“Ya Alhamdulillah, ada hikmah di balik musibah yang dialami anak ini. Bapaknya pikir Iman ini sudah kuliah di Makassar. Ternyata selama ini, bapaknya juga mencari dia. Tapi tidak ada kontak yang bisa dihubungi,” bebernya.

Untuk mempermudah Iman di masa mendatang, Suriana telah menghubungi pihak bank di Nunukan untuk membukakan rekening pribadi untuk Iman.

Sehingga, jika ia mendapatkan bantuan dapat langsung diterima Iman karena Suriana khawatir ada orang yang memanfaatkan situasi Iman.

“Saya sudah minta orang Bank BRI untuk naik ke rumah sakit. Biar kalau ada donatur lagi uangnya masuk ke rekening Iman langsung. Takutnya ada yang memanfaatkan situasi ini,” pungkasnya.


Like it? Share with your friends!