Video: Pembentukan Awan Cumulonimbus yang Ditakuti Para Pilot


Awan cumulonimbus

Palingseru.com – Awan Cumulonimbus merupakan awan besar yang ada di langit, namun tahukah kamu jika para pilot sangat takut sekali dengan jenis awan ini sebab jika terlalu dekat atau bahkan masuk kedalam awan jenis ini pesawat bisa saja mengalami kecelakaan.

Pesawat Air Asia yang hilang kontak sejak minggu pagi hingga kini juga belum ditemukan di duga  penyebab hilangnya kontak pesawat AirAsia ini akibat menghindari awan  Cumulonimbus.

Awan ini menjadi awan yang paling ditakuti oleh para penerbang. Betapa tidak, awan ini yang paling sering menyebebkan bencana seperti tornado, puting beliung dan hail hanya dapat terbentuk di dalam awan ini. Awan Cumulonimbus merupakan satu-satunya awan yang dapat menghasilkan muatan listrik menjadikannya seperti baterai raksasa di langit. baca :Ini Alasan Kenapa Awan Kumulunimbus Sangat Berbahaya bagi Pesawat

Fenomena alam yang kerap terjadi akibat alam cumulonimbus antara lain timbulnya kilat (lightining) dan guntur (thundestorm), hujan lebat, angin kencang, bahkan bisa menimbulkan hujan es. Karakteristik dari awan cumulonimbus ini disertai petir di dalamnya. Sehingga apabila ada pesawat yang masuk ke dalam awan cumulonimbus itu, pesawat biasanya mengalami turbulensi hebat.

Awan Cumulonimbus ini berbentuk awan padat dengan perkembangannya vertikal menjulang tinggi mirip seperti gunung atau menara. Bagian puncaknya berserabut, tampak berjalur hampir rata dan berbentuk mirip landasan yang dikenal sebagai anvil head. Awan Cumulonimbus ini terdiri dari tetes-tetes air di bagian bawah, sedangkan di bagian atas terdiri dari tetes-tetes salju atau kristal es. Adanya updraft dan downdraft sehingga memungkinkan terjadinya sirkulasi dan gesekan yang terjadi antara partikel-partikel awan didalamnya inilah yang dapat menimbulkan muatan listrik.

Awan yang terbentuk akibat dari ketidakstabilan atmosfer ini dapat terbentuk sendiri, berkelompok, atau di sepanjang front dingin di garis squall. Awan Cumulonimbus ini menimbulkan kilat dan guntur, hingga hujan lebat, angin kencang bahkan hujan es. Jika terbentuk menjadi supersel mengakibatkan badai petir besar. Awan cumulonimbus yang dihadapi pilot Air Asia QZ 8501 ini juga mengingatkan kita akan tragedi Sukhoi Superjet 100 Rusia saat menabrak tebing Gunung Salak, Bogor pada 9 Mei 2012 silam. Selain itu juga terhempasnya Lion Air di perairan Bali pada 13 April 2013 lalu yang juga diidentifikasi karena adanya awan Cumulonimbus.

Pada track di mana pesawat dinyatakan lost contact ada awan cukup tebal 48 ribu kaki atau 16 ribu meter. “Para pilot berkeyakinan kru (QZ8501) dalam upaya untuk menghindari badai dengan menambah ketinggian dan belok kiri, tapi mereka terlambat menambah kecepatan” ujar dia. Cuaca di ASEAN bisa berubah sangat cepat di bulan Desember-Januari, awan cumulonimbus bisa tiba-tiba menyergap saat pilot masih mempertimbangkan atau menunggu izin ATC untuk merubah haluan.

“mereka mengalami stall (aerodinamic stall), seperti yang terjadi dalam hilangnya Air France AF44 pada 2009,” lanjut Thomas, seperti dikutip dari AAP.
Pada 2009, Air France AF44 jatuh ke Samudera Atlantik dalam perjalanan dari Rio de Janeiro, Brasil menuju Paris, Perancis.

Airbus A320-200 yang dipakai penerbangan ini merupakan pesawat canggih. Dengan pemikiran tersebut, dia berpendapat hilang kontaknya pesawat ini semata karena faktor cuaca ekstrem.

“Pesawat ini ‘tertangkap’ oleh tarikan awan cumulonimbus. karena kecepatan terlalu lambat di ketinggiannya saat itu, saat tekanan udara cukup tipis, sehingga sayap tidak mampu lagi menopangnya. lalu pesawat mengalami stall.”

Meski sudah menyebut A320 sebagai pesawat canggih, Thomas menegatakan radar di pesawat tersebut bukan produk terbaru. Menurut dia, radar yang terpasang di A320 kadang-kadang bermasalah ketika berada di lingkungan berbadai. “Ada kemungkinan pilot tertipu oleh kondisi itu.”

Radar terbaru yang dipelopori penggunaannya oleh Qantas pada 2002, sebut Thomas, memiliki kemampuan pembacaan badai yang lebih lengkap dan akurat. Namun, radar baru ini belum tersertifikasi untuk bisa dipakai di A320 sebelum 2015.

Nah berikut videonya

More From: Video