4 Kisah Tragis ABG yang Terpaksa Harus Jadi PSK


psk-gang-dolly-tewas-membusuk-dalam-kondisi-b***l-rev1

Palingseru.com – Kini banyak sekali bocah ABG yang terjun ke dunia Prostitusi sebenarnya perkejaan seperti ini bukan merupakan keinginan mereka namun karena banyak faktor akhirnya mereka harus berkerja sebagai PSK.

Banyaknya ABG yang menjadi PSK biasa diawali dari iming iming kerja dengan gaji mahal di kota, setelah mereka sampai di kota para gadis ABG ini malah di jual dan dijadikan alat pemuas nafsu pria hodung belang nah dari sinilah biasanya banyak wanita abg terus bergelut dan tidak bisa lepas dari kehidupan PSK.

Nah berikut ini ada beberapa kisah para abg yang terjebak dan harus jadi PSK, kamu mau tahu seperti apa kisah kisa mereka simak ulasanya berikut seperti dikutp dari situs merdeka.com:

1. ABG dijadikan pelacur cilik oleh tetangganya dan di bayar Rp 200 Ribu

Cerita pilu ini tak pernah terlintas di benak AOP alias B (13) sebelumnya. Diana, yang merupakan tetangga AOP, tega menjualnya ke pria hidung belang dengan harga Rp 200 ribu.

Praktik prostitusi yang dilakukan Diana ini sudah berjalan sejak pertengahan tahun 2012. Namun, baru terungkap beberapa hari lalu karena selama ini B takut bercerita.

Meski memanfaatkan B untuk mendapatkan pundi-pundi kekayaan, ternyata Diana juga kerap menganiaya dan mengancam B. Dua hal itulah yang membuat B berpikir ulang untuk mengadukan kasus ini ke orangtuanya.

Akhirnya kasus ini terungkap saat B mengeluh perutnya yang sering sakit kepada Rury, kerabatnya. Lalu dibawalah B ke tukang urut. Oleh tukang urutnya, Rury diberitahu bahwa ada yang janggal pada tubuh B. B pun disarankan melakukan visum ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan hasilnya, B dinyatakan tidak perawan lagi.

Mengetahui hasil visum gadis kelas VII SMP ini tidak perawan, Rury lantas memaksa B untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dengan menahan rasa sedih dan malu, B menceritakan kalau Diana telah menjual keperawanannya kepada pria hidung belang dengan upah Rp 200 ribu.

Mengetahui hasil visum gadis kelas VII SMP ini tidak perawan, Rury lantas memaksa B untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dengan menahan rasa sedih dan malu, B menceritakan kalau Diana telah menjual keperawanannya kepada pria hidung belang dengan upah Rp 200 ribu.

2. ABG di Bandung Jadi Budak Seks Hanya Dibayar Rp 70 Ribu

LH (17) terisak, air matanya membasahi wajah manisnya. Perempuan asal Bogor itu merupakan korban budak seks para mucikari di Bandung. Polisi menangkap 6 mucikari yang selama ini terendus menjual perempuan kepada para pria hidung belang.

Penangkapan dilakukan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Bandung di tempat praktik prostitusi terselubung di Jalan Dewi Sartika, Gang Ijan No. 55 Kelurahan Pungkur, Kecamatan Regol, pada Sabtu (18/4) dini hari. Tempat ini diduga sudah beroperasi sekitar dua tahun.

Sembari menunduk LH mengaku sudah satu bulan dipaksa menjajakan diri. “Saya sudah tidak tahan dengan pekerjaan ini dan saya tidak kuat dengan perlakukan tamu yang kasar,” katanya di Mapolrestabes Bandung, Minggu (19/4).

LH bernasib sial masuk dunia prostitusi saat dirinya mencari pekerjaan di Kota Bandung. “Saya ke Bandung dan janjian bertemu di Tegallega. Sesampainya di sana teman saya malah enggak ada,” jelasnya.

Mendapati temannya tidak ada, LH pun kelimpungan hingga akhirnya dia bertemu dengan seorang wanita pemilik warung. LH ditawari pekerjaan menjaga warung. LH pun setuju.

Seiring berjalan waktu LH bertemu dengan seorang pria yang menawarinya pekerjaan yang sama di Jalan Dewi Sartika. “Awalnya tidak tahu, tapi ternyata di gang itu saya terus dipaksa untuk melayani laki-laki. Saya mau keluar tapi ditahan karena saya punya hutang karena bekerja di situ,” paparnya.

LH pun terus berusaha mencari jalan keluar, hingga pada satu kesempatan LH kabur. Saat itu LH kebingungan dan melaporkan kepada seseorang di jalan raya untuk mengantarkannya ke kantor polisi. “Saya dibawa ke Polrestabes Bandung,” jelasnya.

Berbekal informasi tersebut polisi menggerebek rumah prostitusi tersebut dan mengamankan 27 PSK serta enam mucikari.

LH mengaku setiap harinya dipaksa melayani tiga sampai empat lelaki dari berbagai usia. Ia mendapatkan bayaran dari pelanggan sebesar Rp 175 ribu dari setiap kali kencan, namun hanya sedikit upah yang diterimanya. “Saya cuma dapat Rp 70 ribu sekali kencannya,” terangnya.

3. ABG Sukabumi yang dijual ke diskotek di Babel

Sedih bercampur malu tidak bisa ditutupi dari wajah Entin. Wajahnya yang terlihat hitam mengkilap terbakar matahari, seolah menjadi bukti hidupnya yang keras.

“Saya juga bingung, mau apa lagi. Kejadiannya teh sudah begini, kumaha deui atuh (kenapa lagi?),” ujar Entin terbata dan hampir meneteskan air mata.

Entin, merupakan ibu dari Sekar (nama samaran) yang menjadi korban perdagangan manusia. Sekar yang masih berusia 16 tahun, dipaksa untuk jadi penghibur pria hidung belang di tempat hiburan malam di Bangka Belitung.

Jumat (13/9) lalu merdeka.com didampingi petugas dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sukabumi mendatangi rumah Entin di Nyalindung, Kabupaten Sukabumi.

Cukup sulit untuk menemukan kediaman Entin. Jalan terjal yang hanya berupa batu kali ditata, sempit, rimbunan pohon bambu dan melewati pekarangan akhirnya tiba di rumahnya yang berdinding bilik. Sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Sukabumi.

Entin, seperti halnya warga lain di lingkungannya sangat sederhana. Takut, sedih, malu bercampur saat rombongan kami berkunjung ke rumahnya. Bahkan Entin memilih duduk di lantai, sedang dirinya memaksa kami untuk duduk di kursi ruang tamunya.

“Punteun bapak ibu, da bumi abdi mah ngan kos kiye. Saayana wae lah (Maaf Bapak Ibu, rumah saya cuma seperti ini. Seadanya saja),” ujar Entin yang memaksa rombongan untuk tetap duduk di kursi, sedang dirinya duduk bersimpuh di lantai tegel.

Ibu tiga anak yang hanya bisa berbahasa Sunda ini pun mulai menceritakan musibah yang dialami keluarganya. Anak tertuanya, Sekar mejadi korban human trafficking atau perdagangan manusia.

Awalnya, Sekar ditawari Dedeh, seorang ibu rumah tangga yang terhitung masih kerabat jauh. Dedeh tidak tinggal satu desa dengan Entin. Saat itu, Dedeh menawari Sekar yang hanya tamatan SD ini untuk bekerja di Bangka Belitung sebagai pelayan restoran.

Bermaksud membantu ibu dan bapaknya yang hanya buruh serabutan, Sekar akhirnya menerima tawaran bekerja ke Bangka Belitung. Singkat cerita, Sekar lalu dijemput oleh seseorang bernama Hendrik untuk dibawa ke Bangka Belitung.

Entin sendiri sempat melarang kepergian putri sulungnya itu, namun ibunya (Nenek Sekar) meyakinkannya bahwa Dedeh yang menawari kerja Sekar adalah orang baik.

“Da abdi mah percaten wae. Ceunah mah damel di restoran di Bangka (Saya percaya saja, katanya kerja di Bangka Belitung)” ujar Entin yang pernah menjadi TKW di Arab Saudi ini.

Pertengahan Juni 2012, Sekar pun berangkat menuju Bangka Belitung dijemput Hendrik. Saat itu usia Sekar masih 15 tahun.

Beberapa minggu kemudian, Sekar memberi kabar bahwa dirinya sudah bekerja di sebuah restoran di Babel. Sekar juga pernah mengirimi uang Rp 1 juta kepada ibunya.

Namun beberapa bulan kemudian, Sekar mulai mengeluh kepada ibunya lewat sambungan telepon. Sambil menangis, Sekar kerap berujar ingin pulang tapi dilarang oleh majikannya.

Naluri keibuan Entin pun timbul. Entin meminta seseorang untuk menjemput putrinya. Namun Sekar merahasiakan alamat restoran tempat dia bekerja. Entin pasrah dan hanya bisa berdoa untuk keselamatan anaknya.

Sekitar pertengahan Agustus 2013, Petugas Kepolisian di Bangka Belitung menggerebek sebuah diskotek. Dalam penggerebekan itu, polisi mengamankan para wanita penghibur dan para pria hidung belang.

Saat dilakukan penggeledahan, polisi menemukan beberapa anak di bawah umur yang dipekerjakan sebagai pelayan tamu. Sekar pun termasuk anak di bawah umur yang diamankan petugas kala itu.

Atas kerjasama dengan Polda Jawa Barat, Sekar akhirnya bisa dipulangkan. Sekar juga sempat menjalani bimbingan oleh Dinas Sosial Jawa Barat, sebelum dipulangkan kepada orangtuanya.

“Sekar datang Selasa (10/9) kamari (kemarin), diantar dari Dinsos Bandung. Katanya dia dikerjakan di diskotek, nah saya teh langsung kaget,” ujar Entin berurai air mata.

Sesampainya di rumah, Sekar pun mengaku kepada kedua orangtuanya bahwa dirinya tidak bekerja di restoran melainkan di diskotek. Sekar pun mengaku dipaksa menemani tamu laki, dan minum-minuman keras dengan para tamu.

Kini Entin sudah bisa sedikit lega, anaknya yang merantau ke negeri seberang telah kembali ke rumah. Bagi Entin dan suaminya, tidak ada yang lebih berharga dari berkumpulnya keluarga. Namun dengan alasan tertentu, Sekar enggan bertemu dengan kami.

“Adiknya Sekar oge damel tapi di Sukabumi, jadi pelayan di tempat makan (Adiknya Sekar juga kerja di Sukabumi, jadi pelayan rumah makan),” ujar Imas saat ditanya adik Sekar yang masih berusia 13 tahun.

Kasus anak di bawah umur yang bekerja di Sukabumi memang cukup banyak. Dengan alasan ingin mencari penghasilan untuk membantu keluarga, anak-anak belia usia belasan rela bekerja.

4. Imingi pekerjaan dan ponsel, Nurul jadikan ABG Lampung PSK

 Profesi mucikari yang dijalani Nurul alias NI selama delapan tahun akhirnya terendus polisi. Pada Rabu (11/9) malam lalu, polisi menggerebek rumahnya yang dijadikan lokasi bisnis prostitusi, dan ikut menciduk wanita berusia 35 tahun itu.

“NI tertangkap di tempat usahanya pada Rabu malam pukul 23.00 WIB, dengan empat korbannya yang masih di bawah umur,” kata Kasat Reskrim Polresta Bandarlampung, Kompol Deri Agung Wijaya, di Bandar Lampung, Sabtu (21/9).

Dikutip dari Antara, terkuaknya kasus penjualan anak di bawah umur ini setelah polisi menerima informasi dari seorang warga Kelurahan Susunan Baru Kecamatan Tanjungkarang Barat yang melaporkan putrinya, FSL (13) menghilang sejak 10 Agustus lalu. Keluarga menduga FSL dibawa rekannya DS (14) yang berusia 14 tahun, untuk bekerja di eks lokalisasi Pemandangan Kecamatan Pa**ang Bandarlampung.

“Berdasarkan laporan dari keluraga korban, Polresta Bandarlampung melalui Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak langsung melakukan penyelidikan dengan menemukan sebuah rumah kontrakan yang dimiliki seorang perempuan berinisial NI alias Mami alias Bunda,” jelasnya.

NI bersama empat ABG itu diamankan di sebuah kontrakan di Jalan Teluk Tomini Way Lunik, Kecamatan Telukbetung Selatan.

“Ketiga anak di bawah umur yang ditemukan bersama dengan FSL yakni TA (14), TS (13) dan DS (14),” ujarnya.

Empat ABG itu mengaku dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK). Semula, NI menjanjikan pekerjaan di sebuah kafe dan mendapat ponsel jika mereka ikut dengan pelaku. Mereka wajib menyetorkan uang hasil melayani tamu yang dilakukan setiap malamnya, sedangkan gaji baru diterima setiap tiga bulan sekali.

“Para korban ini pun mengakui tidak diizinkan pulang oleh NI, kecuali berjanji untuk kembali bekerja kepada tersangka, serta kembali dengan membawa rekan-rekannya,” tegas Deri.

Nurul mengaku membuka usaha prostitusi sejak tahun 2005. Dia juga menyediakan anak buah yang rata-rata masih di bawah umur.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 2, pasal 11, pasal 12 UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, dan pasal 18 ayat 2 dan pasal 38 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana maksimal 15.
Dan inilah salah sebab mengapa kasus human trafficking marak terjadi di Sukabumi.

 


Like it? Share with your friends!