11 Tahun jadi Guru Honorer, Ibu Guru ini Setiap Hari Harus Jalan Kaki Sejauh 10 Kilometer Susuri Hutan untuk Menuju ke Sekolah


via: kompas.com

Palingseru.com – Tepat Hari Rabu, 25 November 2020 kemarin, Indonesia memperingati Hari Guru Nasional.

Momen ini memang patut diperingati setiap tahun, mengingat jasa para pahlawan tanpa tanda jasa ini telah melahirkan para generasi bangsa yang cerdas dan berguna bagi kemajuan Bangsa.

Tapi di balik itu, masih tersimpan banyak kisah pilu dari para guru. Khususnya mereka yang berstatus honorer.

Dibayar upah kecil dan melakukan perjalanan pa**ang untuk tiba di sekolah merupakan hal yang sudah biasa diterima para guru honorer, termasuk Berta Bua’dera (48), guru honorer di SD Filial 004 di Kampung Berambai, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

via: kompas.com

Setiap hari, Berta harus menempuh perjalanan sejauh 10 kilometer, dengan menaiki bukit dan menuruni lembah seorang diri bahkan di saat langit masih gelap, karena ia harus turun subuh hari agar bisa datang tepat waktu.

Dan hal ‘melelahkan’ itu dijalaninya selama 11 tahun lamanya. Namun tak ada keluhan atau keputusasaan pun dari diri Berta. Dia tetap setia menjadi guru bagi murid-murid yang disayanginya.

via: kompas.com

“Kalau jalan sudah terlalu capek kadang lapar, saya makan di perjalanan. Istirahat sebentar makan dulu, baru lanjut jalan lagi. Karena jalan siang (pulang) itu lebih cepat capek ketimbang pagi hari (saat pergi). Karena itu, sampai rumah agak lambat,” Berta mengisahkan, dilansir Kompas.com.

Selain itu, tak jarang juga Berta bertemu dengan hewan-hewan berbahaya yang berhabitat dalam hutan.

“Monyet paling sering ketemu. Orangutan dan ular jarang-jarang, tapi ular di sini rata-rata berbahaya, ular kobra. Tapi, syukur sejauh ini saya aman saja,” tuturnya.

via: kompas.com

Sebagaimana para guru honorer lainnya, Berta juga berharap nasibnya diperhatikan oleh pemerintah, dengan menaikkan upah per bulan yang diterimanya saat ini, yang hanya sebesar Rp 1 juta, karena gajinya tak mencukupi kebutuhan keluarga, apalagi biaya sekolah anak.

“Yang kami sulit itu menyekolahkan anak-anak. Kalau makan, apa saja bisa kami makan dari hasil kebun,” ucapnya.


Like it? Share with your friends!